Skip to main content

Poyekhali, Yuri Gagarin!

Pagi, 12 April 1961, itu menjadi hari bersejarah dalam kehidupan Yuri Gagarin. Pada usianya yang masih sangat muda, 27 tahun, dia telah dipercaya pergi ke antariksa untuk pertama kali dalam sejarah manusia dengan teknologi canggih.



Tepat pukul 09.07 waktu setempat Gagarin berteriak, ”Poyekhali (ayo berangkat)!” Dia lantas meluncur ke angkasa dari tempat peluncuran pesawat antariksa di Kazakhstan. Hanya mengonsumsi makanan melalui tabung dan dia harus terus terjaga dengan fasilitas radio frekuensi tinggi dan tombol telegraf. ”Aura yang indah,” demikian komentar Gagarin ketika melihat bumi dari balik jendela pesawat antariksanya, ”saya tidak gugup selama penerbangan antariksa.” Misinya hampir mengalami bencana
.
foto
Kabel yang terhubung dengan kapsul pesawat antariksa dengan modul pelayanan gagal dipisahkan sebelum Gagarin kembali ke Bumi.Kapsul yang ditumpangi Gagarin menjadi semakin berat dengan modul tambahan ketika memasuki atmosfer Bumi. Temperatur di dalam kapsul pun semakin meningkat. Ketika itu Gagarin sempat kehilangan kesadaran. ”Saya dikelilingi asap dari percikan api dalam arah menuju Bumi,” kata Gagarin seperti dikutip BBC.

Itu pernyataan Gagarin sekitar 10 menit sebelum kabel itu terbakar dan membakar kapsul yang ditumpangi Gagarin. Takdir masih berpihak kepadanya. Gagarin mampu keluar dari kapsulnya dan mengembangkan parasut dan mendarat dengan selamat di Sungai Volga. Setelah terbang ke orbit bumi selama 108 menit dan mendarat di bumi,dia menjadi selebritas dunia. Dari Ratu Inggris hingga Fidel Castro pun memberikan pujian baginya. Namanya menjadi nama jalan di berbagai kota di Soviet.

Gzhatsk, kota yang menjadi tempat tinggalnya ketika masa kecil, diganti namanya menjadi Gagarin. Gagarin pun berkeliling dunia, dari Cekoslowakia, Bulgaria, Finlandia, Inggris,Kuba, Brasil, Kanada, Hongaria, dan India.Dia selalu ramah dan menyenangkan. Senyumnya mampu menjadi magnet bagi siapa pun yang melihatnya.Dia mampu memberikan aura yang berbeda dari kebanyakan tokoh dari negara komunis yang selalu tegas dan tidak ramah. Kisah patriotik Gagarin terjadi 50 tahun yang lalu.

Dia adalah pionir dalam dunia antariksa. Dia menjadi senjata propaganda sangat berpengaruh bagi Uni Soviet ketika itu. Gagarin pun disebut para sejarawan sebagai ”pahlawan” dan ”panglima” yang mampu memenangkan perang ideologis selama Perang Dingin antara negaranya dengan Amerika Serikat (AS). Kisah Gagarin menjadi cerita wajib di sekolah Soviet dan disejajarkan dengan Lenin.

Ingin Terbang ke Antariksa Lagi
Terus, apa keinginan yang masih terpendam dalam sosok seorang Gagarin? ”Ayah ingin sekali terbang ke antariksa lagi. Ayah sangat menikmati penerbangan pertamanya, tetapi itu telah berakhir dengan cepat,” kata Gagarina seperti dikutip BBC. Gagarin juga ingin kembali menjadi seorang kosmonot dan pilot. ”Ayah sedih ketika tidak diizinkan terbang kembali,”kata putri yang berusia dua tahun ketika ayahnya terbang ke orbit Bumi itu. Kisah perekrutan Gagarin juga sangat menjadi sejarah.

Pada salah satu hari di tahun 1959, 2.200 pilot Rusia dites. Hanya 20 orang yang lulus. Selama 11 bulan para kosmonot itu dilatih dengan program yang luar biasa sulitnya,mulai dari tes mental hingga kekuatan fisik. ”Salah satu teknik pelatihannya melibatkan kamar isolasi,”ungkap Gagarina. Kamar isolasi itu sangat sempit dan tanpa jendela.Saat itu,kenang Gagarina, ayahnya sangat tenang dibandingkan kandidat lain. Para kandidat pun tidak mengetahui berapa lama mereka berada di ruang isolasi itu.

”Sekitar 21 hari, ayah diuji coba di ruang isolasi dari suhu 50 derajat hingga minus 50 derajat,” katanya. Dua hari sebelum penerbangan dilakukan, Gagarin diberi tahu bahwa dialah yang lulus. ”Kepribadian ayah merupakan faktor utama kemenangannya. Dia selalu tersenyum. Dia selalu ramah dan mudah akrab,” tutur Elena Gagarina. Dia juga memuji ayahnya yang mampu bereaksi sangat cepat dalam keadaan yang sulit.

Comments

Popular posts from this blog

Satu, yang Seperti Itu

Aku duduk di kursi, ditemani secangkir kopi yang gakbikinkembung di meja dan sebuah buku di depan kacamata. Ini buku kedua yang kubaca malam ini untuk menemani sepi. Bukan malam, pukul 2.00 sudah masuk waktu pagi. Namun, tetap saja, kabarmu tak kunjung tiba. Kelopak mata atas dan bawahku pun tak kunjung bertegur sapa. Aku tak berdaya. Seandainya aku di sana, aku takkan membiarkanmu sendiri.
“Mas, maaf ya. Aku ada masalah fatal di kantor dan harus segera ke luar kota malam ini. Aku izin ditemenin supir kantor ya” ucapmu tadi sore.

Aku tersentak. Perjalanan malam dengan medan bukit dan hutan sejauh 80km bukanlah hal yang menarik untuk dibayangkan. Terutama oleh aku di sini, 1346km dari kamu. Berkas sidang di mejaku pun tak kuhiraukan lagi. Tapi apa daya?

Amour Vincit Omnia, Cinta Itu Mengalahkan Segalanya. Tapi, sejak aplikasi trave*loka tak banyak membantu, aku bisa apa? Aku menyerah. Menyerah pada jarak yang terbentang di antara kita. Aku pun hanya bisa berdoa. Menitipkan dirimu kepada…

#MeInPKNSTAN 2 - (Seleksi Kompetensi Dasar) SKD Lulusan PKNSTAN 2017 !

Jika ada hal yang membuatku tertekan semenjak tingkat satu berkuliah di PKNSTAN, jawabanya bukan karena IP ataupun bayang - bayang penempatan di seluruh Indonesia, bukan. Meskipun yaa tiap ada UAS/ UTS/ Pengumuman IP hal tersebut terasa mendebarkan, tetapi Tes Kompetensi Dasar (TKD), atau kalau di zamanku namanya Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) lebih menegangkan lagi wkwk. Bagaimana tidak, kalau tidak lulus satu seleksi ini, perjuanganku kuliah selama tiga tahun di PKNSTAN untuk menjadi seorang aparatur sipil negara, terutama di DJP bakal kandas. Hal tersebut karena salah satu syarat seseorang diangkat menjadi seorang ASN adalah harus melewati tes ini.

Bila teringat tiga tahun lalu, ketika kepala masih botak bagaikan cilok, muka masih imut belum banyak pikiran UAS, UTS, DO, Jadwal Kosong, dll, duduk di Student Center untuk mengikuti dinamika, mendengarkan direktur memberikan sambutan sekaligus tanya jawab. "Yang memilih anda masuk STAN (ketika itu nama kampusku masih STAN, red) ad…

#MeInPKNSTAN 8 - Pengumuman Instansi : Keikhlasan atas Pilihan dan Takdir

Ibarat sebuah siklus, kejadian yang pernah aku rasakan empat tahun yang lalu seakan terulang kembali. Aku terlempar dari zona nyaman, lagi. Seperti orang yang putus cinta, dua hari setelah pengumuman aku masih tidak percaya, ternyata aku diterima di pilihan pertama survey penempatan instansi : Setjen Kemenkeu. Dan itulah masalahnya. Makan tidak enak, sering melamun, dan pikiran terbang entah kemana. Dasar manusia plin plan ! Mungkin Sang Pemegang Nasib sampai berkata demikian, bagaimana aku awalnya sangat berharap, namun setelah harapan itu terwujud, justru aku mengingkari hasilnya.



Dengan hati yang bingung, kucoba menemui beberapa kolega terdekat. Dimulai dengan Iyan dan Udi di malam pengumuman instansi. Kebetulan kamar mereka di sebelah kamar kosku yang baru. “Kenapa kamu dulu milih Setjen? Kalo di DJP kan lumayan gajinya, iya to ? haha” Kata Iyan sambil menggerakkan tangan seolah memamerkan uang di depan mukaku sambil bercanda.”Kalo aku sudah fokus dengan si dia sal, di DJP insya …