Skip to main content

#MeInPKNSTAN 1 - Maka, Nikmat Mana yang Kamu Dustakan ?

Hari ini tanggal 14 Juni 2017, waaw, sudah lama sekali sejak terakhir update blog. Kalau diliat sih terakhir tahun 2013, dimana ketika itu masih berstatus menjadi mahasiswa kampus kerakyatan, kampus UGM. Ya, ternyata sudah hampir empat tahun berlalu, dari yang dulunya jadi mahasiswa PTN sekarang sudah hampir lulus jadi mahasiswa PTK. Lho ? Kok bisa ? Inilah perjalanan hidup kawan.

Teringat ketika Bu Dewi, guru SDku bertanya dengan lembutnya "Yuk, angkat tangan dan sebutkan cita - cita kalian !" ketika kelas 5 SD. Secara spontan aku angkat tangan "Cita - cita saya STAN Bu !!" seketika Ibu Dewi mengernyitkan dahinya dan berkata "STAN itu bukanya kampus ya Faisal ?". Saya pun menjawab dengan polosnya "Wah, gatau ya Bu, Ayah saya bilang kamu besok masuk STAN aja" haha itu lah percakapan ku di SD yang masih ku ingat hingga saat ini. Memang, pertama kali aku mengenal STAN dari ayahku ketika aku ngobrol santai dan beliau menyarankanku untuk masuk STAN. Tanpa ku ketahui, sebenarnya apa itu STAN ._.

Ga terasa kuliah di kampus PKNSTAN pun sudah mau berakhir. Barusan banget tadi pagi tanda tangan acc tugas akhir, fiuhh,, rasanyaa legaa.. Sambil nunggu waktu pengumpulan TA jam 08.00 nanti, iseng - iseng buka blog lama kok jadi pengen update lagi, update tentang perjalananku selama 3 tahun kebelakang, sebuah perjalanan yang menurutku tidak pernah terbayangkan dibalik sebuah kegagalan yang hampir membuatku putus asa sebelumnya #ceileh wkw

Sebenarnya untuk kuliah di Kampus Ali Wardhana ini ga pernah masuk ke kamusku di SMA dulu. Sejak aku suka biologi dari SMP, ditambah dulu pernah dapet perunggu OSN Biologi Nasional (pamer dikit gapapa ya, #nostalgia masa imut SMP) dan perak di OSN IPA Nasional, garis garis besar haluan nasional langsung aku arahkan menjadi DOKTER. Ketika SMP, pernah suatu ketika aku diwawancarai wartawan (pamer lagi ye :p), dengan mantap JADI DOKTER. Pokoknya DOKTER DOKTER DOKTER ! huahuahua #evillaugh

Jadi, setelah tamat SMP 1 Sukoharjo ketika itu, langsung dengan pedenya mendaftar di SMA 3 Surakarta, yang akselerasi ya, biar nanti pas jadi dokter muda, keliatan muda beneran :3. Alhamdulillah ketika itu aku diterima di SMA 3 Surakarta dan di program akselerasi. Di SMA ini aku gamau cerita banyak yak, mungkin di ceritaku yang selanjutnya akan aku fokuskan ke kampus ali wardhana, kenapa ? ya karna jangka waktu yang lebih dekat dan dari sini aku mulai memperbaiki konsep diriku dari dulu. Dari teman - teman yang mengarahkan, dari lingkungan, dan dari berbagai pengalaman yang aku dapat. Okay, back to topic ya. Selama SMA ini hampir semua temen - temen di Aksel pengen jadi dokter. Gilee ga tuh. Penuh nanti rumah sakit sama dokternya doang, bukan ama pasiennya. Wah,saingan berat nih pikirku.

Dua tahun berlalu, masa SMA merupakan masa yang indah untuk dikenang. Di sini aku mulai mengenal apa yang namanya belajar baik belajar dalam arti baca buku atau belajar dalam arti membaca hati wanita. Okee skip skip. Aku lulus dengan predikat mahasiswa teladan cendekia saat itu. Nilai rata - rata UN, US, dan Rapor menduduki peringkat pertama untuk program akselerasi. Sebuah nikmat yang sangat besar bagiku, belum lagi karena sejak tingkat satu, aku belum pernah menduduki peringkat pertama sekalipun di kelas. Hal ini lah yang membuatku pede untuk masuk FK UGM saat itu. Satu hal yang menjadi ganjalan waktu itu adalah masalah biaya. Orang tuaku PNS Guru. Yah, walaupun sekarang kita tahu ada yang namanya sertifikasi yang lebih menjamin kesejahteraan guru, tetapi saat itu orang tuaku masih belum memiliki status itu. Pada awalnya memang baik ayah dan ibuku kurang mendukung kebijakanku untuk mengambil jurusan tersebut, tetapi setelah berjalanya waktu, ibuku bilang "apapun yang Mas Labib pilih, ibu akan mendukung sekuat ibu". Langsung saja, tancap gas poll milih FK UGM !

Singkat cerita, SNMPTN Undangan aku gagal. Aku bingung. Ini adalah kegagalan utama pertama kali dalam hidupku. Selama ini aku merasa hidupku santai - santai saja. Lulus - lulus saja. Terbiasa merasa di atas, aku down. Aku bersyukur sekali ketika itu dimana orang tuaku selalu mendukung setiap langkah yang aku ambil. Hingga tiba saatnya hari SBMPTN. Pilihan SBM selalu ku ingat sampai sekarang, yaitu (1) FK UNS (2) Tekkim UGM (3) Tekkim UNS. Dan hasilnya adalah aku diterima di Tekkim UGM ! Kawan, tahukan kamu, ini nikmat yang besar. Ketika banyak orang ingin kuliah di Tekkim UGM, atau minimal jurusan apapun di UGM, atau minimal lagi kampus apapun yang penting PTN, atau lebih minimal lagi apapun deh yang penting kuliah, ketika aku diterima di tekkim UGM yang terasa hampa. Aku merasa kegagalan telah menemuiku untuk kedua kalinya. Dan aku termasuk ke dalam orang - orang yang tidak bersyukur. Padahal secara statistik saat itu, aku termasuk 2% pemuda paling beruntung di Indonesia yang dapat berkuliah, mengenyam bangku di perguruan tinggi.

Selain mendaftar SNMPTN, SBMPTN, aku pun mendaftar FK UGM melalui UM. Namun, hasilnya nihil. Akun pun pernah mendaftar beasiswa Monbukagakusho hanya untuk mengejar kedokteran sampai ke negeri Jepang. Ujian aku lalui sampai tahap akhir, tahap wawancara dimana ada 42 orang yang datang untuk diwawancari dari 49 peserta yang diterima. Pengumuman kelulusan menyatakan ada 29 orang diterima untuk diberangkatkan ke Jepang, jumlah ini sangat banyak kalau dibandingkan tahun - tahun sebelumnya, dimana paling banyak cuma 5 orang per tahun. Dan aku tidak masuk ke dalam 29 orang yang berangkat ke Jepang.

Dengan kampus Ali Wardhana aku pernah sekali mendaftar di tahun 2013. Lolos tes tertulis, aku tinggal selangkah lagi yaitu tes kebugaran dan wawancara. Akan tetapi, karena jadwalnya berbarengan dengan tes Monbukagakusho, akhirnya aku lebih memilih pergi ke jakarta dibandingkan lari keliling lapangan di BDK Jogjakarta.

Di dalam Alquran disebutkan bahwa setelah kesulitan, pasti ada kemudahan. Hal tersebut pula yang selalu diungkapkan oleh Ibu saya ketika itu. Kegagalan demi kegagalan aku lalui selama kuliah di tekkim UGM. Bolos udah jadi hal wajar. Telat itu hal yang biasa. Kerjaan tiap hari cuma tidur. Tujuan hidup enggak jelas, Sebagai seorang yang belum begitu faham ilmu agama, tentu membuat saya semakin down saat itu. Saya kurang merenungi bagaimana beruntungnya saya kalau dibandingkan dengan kegagalan yang saya terima saat itu. IP saya saat di UGM 3.42 dan 3.63, tapi ya tetep aja rasanya hampa. Padahal banyak temen - temen lain yang tidak seberuntung saya.

Karena kurang sreg juga dengan jurusan yang aku ambil ketika itu, aku mulai berfikir untuk SBMPTN lagi di tahun kedua. Tidak pernah terbersit di pikiranku untuk masuk STAN ketika itu. Tapi, ketika itu, mantanku  (yang dulu statusnya masih pacar) yang kuliah di Surabaya disarankan untuk mendaftar STAN oleh orang tuanya. Hmm.. pikirku cukup menarik. Aku langsung utarakan kepada Ibuku ketika itu untuk mendaftar STAN (sebagai catatan, ini bukan karena ikut - ikut mantan yak, tapi dapet ide dari dia juga sih wkw). Ibuku menyetujui dengan nada yang kurang yakin, karena Ibuku tahu bahwa pada tahun 2013 aku pernah mangkir dari tes tahap dua. Jadi beliau berfikir bahwa bakalan sulit untuk masuk STAN kali ini. Tetapi, ibuku selalu bilang, "apapun pilihanmu nak, ibu selalu mendukung dan mendoakan. Ibu tidak mau memaksa maupun memilihkan pilihanmu, hidupmu kamu yang menentukan dan kamu yang akan menjalaninya kelak, jadi tentukan pilihan kamu sendiri". Adem rasanya kalau udah denger kata - kata ini dari Ibu :"

Singkat cerita, aku daftar SBMPTN dan USM STAN pada tahun 2014. Pilihanku di SBMPTN di antaranya (1) FK UGM (2) FK UNAIR (3) FK UNILA. Kenapa UGM ? Udah terlanjur cinta UGM :3 Kenapa UNAIR ? Ya ketika masih jaman jahiliyah, ada hati yang di sana :3; Kenapa UNILA ? Deket rumah huehue. Dari ketiga pilihan tersebut, aku diterima di FK UNILA ! dan dari USM STAN aku diterima di D3 Pajak ! Ada satu hal yang lebih sulit daripada masuk ke suatu universitas, yaitu memilih universitas ketika kita diterima. Apakah aku memilih FK ? Pajak ? atau aku tetap stay di Tekkim ? Akhirnya dengan mantap D3 PAJAK ! Sayangnya, mantanku waktu itu yang juga mendaftar belum beruntung dan sampai sekarang masih tetap melanjutkan kuliah kebidanan di UNAIR. Ohiya, baru kemarin (13 Juni 2017) dapat kabar mantanku baru banget sidang skripsi. Selamat deh ya, akhirnya jadi S.Keb juga setelah berjuang selama 4 tahun. I'm Proud of You, Finally made It !

Ada satu hal yang menarik ketika menunggu pengumuman D3 Pajak STAN ketika aku berkuliah di UGM. Karena pengumuman akhir STAN itu baru tiga minggu setelah perkuliahan di UGM, jadi aku harus kuliah dulu di UGM di semester 3. Ketika itu aku cuma isi KRS saja, dan karena masih nunggu pengumuman, aku belum bayar uang UKT, sayang kan 5.5 Juta kalo akhirnya nanti ditinggal huehue Jadi deh selama tiga minggu itu aku jadi mahasiswa gelap. Kalau dipikir - pikir beresiko juga, karena FK Unila sudah ku lepas ketika itu, Tekkim UGM belum dibayar UKTnya, dan STAN belum pengumuman. Akhirnya ketika pengumuman aku diterima di D3 Pajak STAN ! Ibuku, Ayahku sampai bingung, kok bisa - bisanya gitu, wkw 

Salah Satu Kenangan di Surabaya, 2007
Akhirnya, aku menemukan jalan baru, aku bersyukur sekali ketika itu. Perjalanan hidupku selanjutnya di STAN penuh nikmat, dimana aku harus banyak - banyak bersyukur bisa sampai sejauh ini. Dari cerita dinamika, tingkat satu, putus dengan mantan, hingga sampai sejauh ini banyak sekali pelajaran, nikmat, dan karunia yang aku dapat dari Allah. Sesungguhnya janji Allah itu benar, sesudah ada kesulitan, pasti ada kemudaha. Ya Allah, begitu banyak nikmat yang engkau berikan, akan tetapi hambamu ini tidak pandai bersyukur.

FYI. kemarin baru aja pengumuman SBMPTN. Adeku menjadi salah satu peserta SBMPTN, dan tahukan kamu ? Adeku masuk di jurusan Teknik Kimia, dimana aku dulu kabur dari sana, wkwk

#Perpustakaan Politeknik Keuangan Negara STAN, Bintaro
Ditulis ketika menunggu pengumpulan KTTA (14 Juni 2017)

Comments

Popular posts from this blog

Satu, yang Seperti Itu

Aku duduk di kursi, ditemani secangkir kopi yang gakbikinkembung di meja dan sebuah buku di depan kacamata. Ini buku kedua yang kubaca malam ini untuk menemani sepi. Bukan malam, pukul 2.00 sudah masuk waktu pagi. Namun, tetap saja, kabarmu tak kunjung tiba. Kelopak mata atas dan bawahku pun tak kunjung bertegur sapa. Aku tak berdaya. Seandainya aku di sana, aku takkan membiarkanmu sendiri.
“Mas, maaf ya. Aku ada masalah fatal di kantor dan harus segera ke luar kota malam ini. Aku izin ditemenin supir kantor ya” ucapmu tadi sore.

Aku tersentak. Perjalanan malam dengan medan bukit dan hutan sejauh 80km bukanlah hal yang menarik untuk dibayangkan. Terutama oleh aku di sini, 1346km dari kamu. Berkas sidang di mejaku pun tak kuhiraukan lagi. Tapi apa daya?

Amour Vincit Omnia, Cinta Itu Mengalahkan Segalanya. Tapi, sejak aplikasi trave*loka tak banyak membantu, aku bisa apa? Aku menyerah. Menyerah pada jarak yang terbentang di antara kita. Aku pun hanya bisa berdoa. Menitipkan dirimu kepada…

#MeInPKNSTAN 2 - (Seleksi Kompetensi Dasar) SKD Lulusan PKNSTAN 2017 !

Jika ada hal yang membuatku tertekan semenjak tingkat satu berkuliah di PKNSTAN, jawabanya bukan karena IP ataupun bayang - bayang penempatan di seluruh Indonesia, bukan. Meskipun yaa tiap ada UAS/ UTS/ Pengumuman IP hal tersebut terasa mendebarkan, tetapi Tes Kompetensi Dasar (TKD), atau kalau di zamanku namanya Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) lebih menegangkan lagi wkwk. Bagaimana tidak, kalau tidak lulus satu seleksi ini, perjuanganku kuliah selama tiga tahun di PKNSTAN untuk menjadi seorang aparatur sipil negara, terutama di DJP bakal kandas. Hal tersebut karena salah satu syarat seseorang diangkat menjadi seorang ASN adalah harus melewati tes ini.

Bila teringat tiga tahun lalu, ketika kepala masih botak bagaikan cilok, muka masih imut belum banyak pikiran UAS, UTS, DO, Jadwal Kosong, dll, duduk di Student Center untuk mengikuti dinamika, mendengarkan direktur memberikan sambutan sekaligus tanya jawab. "Yang memilih anda masuk STAN (ketika itu nama kampusku masih STAN, red) ad…

#MeInPKNSTAN 8 - Pengumuman Instansi : Keikhlasan atas Pilihan dan Takdir

Ibarat sebuah siklus, kejadian yang pernah aku rasakan empat tahun yang lalu seakan terulang kembali. Aku terlempar dari zona nyaman, lagi. Seperti orang yang putus cinta, dua hari setelah pengumuman aku masih tidak percaya, ternyata aku diterima di pilihan pertama survey penempatan instansi : Setjen Kemenkeu. Dan itulah masalahnya. Makan tidak enak, sering melamun, dan pikiran terbang entah kemana. Dasar manusia plin plan ! Mungkin Sang Pemegang Nasib sampai berkata demikian, bagaimana aku awalnya sangat berharap, namun setelah harapan itu terwujud, justru aku mengingkari hasilnya.



Dengan hati yang bingung, kucoba menemui beberapa kolega terdekat. Dimulai dengan Iyan dan Udi di malam pengumuman instansi. Kebetulan kamar mereka di sebelah kamar kosku yang baru. “Kenapa kamu dulu milih Setjen? Kalo di DJP kan lumayan gajinya, iya to ? haha” Kata Iyan sambil menggerakkan tangan seolah memamerkan uang di depan mukaku sambil bercanda.”Kalo aku sudah fokus dengan si dia sal, di DJP insya …