Skip to main content

#MeInPKNSTAN 3 - Bertahan dengan Rp500.000/Bulan di PKNSTAN ? Siapa Takut ! (Part 1)

Salah satu yang aku pertimbangkan ketika memilih jurusan di PKNSTAN adalah lama masa pendidikan. Untuk masalah jurusan mah urusan kedua. Jadi aku pribadi ketika mendaftar mau pilih D-I dengan masa pendidikan yang hanya satu tahun, atau pilih D-III dengan masa pendidikan tiga tahun. Tapi, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih D-III Pajak di pilihan pertama, dan D-III Akuntansi di pilihan kedua. Untuk selanjutnya, aku lupa, karena ada tujuh pilihan yang harus diisi ketika itu. Mengapa demikian ? Pikiranku dulu simpel, semakin lama kuliah, semakin lama kita menjadi mahasiswa, semakin lama menjadi mahasiswa berarti kantong tipis juga bertahan semakin lama, huehue. Tapi kawan, teori tersebut tidak selamanya benar! Setelah aku masuk ke jurusan D-III Pajak (Dulu ketika awal aku masuk namanya Spesialisasi Perpajakan) tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya.

 Aku memiliki orang tua yang keduanya PNS Guru. Ayahku mengajar di SMP dan ibuku seorang kepala sekolah di SD di daerah aku tinggal. Meskipun demikian, untuk urusan finansial, tiap bulanya aku hanya memperoleh uang saku Rp500.000 per Bulan baik ketika di Teknik Kimia UGM maupun di PKNSTAN. Kalau di UGM tidak begitu terasa karena aku mendapat beasiswa yang lumayan di Jurusanku. Yang aku pikirkan adalah ketika di PKNSTAN, dimana kuliah sudah gratis, sehingga mungkin tidak ada beasiswa yang ditawarkan sejauh yang aku tau (ya iyalah, orang kuliahnya aja udah gratis ._.). 

Aku mulai kuliah tanggal 29 September 2014. Mengatur uang Rp500.000 untuk kebutuhan sebulan seperti uang sampah, listrik, jajan, dan bahkan makan bukan perkara mudah. Kalau di Jogja dulu, makanan murah. Rp4500 saja sudah dapat nasi, telor, lengkap dengan lauknya. Lha di sini ? Hampir dua kali lipatnya! Sehingga, aku memulai membuat perencanaan. Ketika kuliah di PKNSTAN, aku memutuskan untuk memasak nasi sendiri dan membeli lauk di luar. Ternyata hal tersebut cukup membantu, itung – itung latian kalau dapat beasiswa di luar negeri besok laah. Tiap setengah bulan sekali aku beli beras 5kg yang ada di Harmoni, ku cari beras yang paling murah pokoknya wkw. Untuk lauknya aku beli di warung makan langgananku yang ada di kalimongso. Dengan perencanaan ini, uang Rp500.000 cukup untuk memenuhi kebutuhanku sebulan. 

Anggaran Bulan September s.d. November 2014


Perencanaan ini aku lakukan cuma untuk tiga bulan pertama kuliah di STAN. Bulan Oktober, aku memperoleh informasi tentang pendaftaran pengajar private. Meskipun kedua orang tuaku guru, aku hampir tidak memiliki kemampuan mengajar dalam diriku pada awalnya. Tapi keterbatasan menciptakan kekreatifan sekaligus keberanian. Mungkin ini cara Allah Subhanahu Wata’ala mendidikku untuk menjadi pribadi yang memiliki skill lebih. Akhirnya aku mendaftar dan dengan mudah aku lolos, karena ada dua nilai sepuluh di ijazahku. Pada bulan November, secara resmi aku memulai menjadi pengajar di SPC (Super Private Class) untuk mengajar Matematika, Kimia, Biologi, bahkan Fisika ! Aku sama sekali tidak memiliki pengalaman mengajar dan bosku (biasanya aku memanggilnya Kak Ibnu) memercayaiku untuk mengajar empat mata pelajaran sekaligus. Bisa dibayangkan gimana keringat dingin selalu keluar di awal – awal aku mengajar dulu. Tapi, bukan SPC namanya kalau tidak mempersiapkan pengajarnya untuk memberikan yang terbaik bagi murid – muridnya (bahasa promosi banget yak wkw). Aku dan teman – teman yang lain diberi pelatihan softskill dan hardskill sekaligus terjun praktik langsung untuk mengajar, dan hasilnya.. luarr biasaa.. Aku sampai betah tiga tahun mengajar di tempat tersebut! 

Jalan - Jalan Keluarga SPC
Bulan pertama aku mengajar, yaitu bulan November 2014, aku memperoleh Rp300.000 yang dibayarkan di bulan Desember secara Cash. Jumlah yang tidak besar memang, tapi mengingat uang tersebut merupakan penghasilan pertamaku, jumlah tersebut sudah sangat besar. Bulan Desember, aku memperoleh Rp400.000, lumayan lah meningkat Rp100.000 dari bulan sebelumnya. Bulan Januari gajiku Rp950.000! Baru tiga bulan brow, sudah tiga kali lipat naik gajinya, wkw. Aku teringat kata – kata Kak Nina (yang ngurusin jadwal dan gaji pengajar) pas memberikan uang kepadaku “wah, ini baru bulan ketiga aja udah hampir satu juta, kaka yakin di bulan – bulan berikutnya bakal lebih dari satu juta terus nih haha). Pada bulan ini lah terakhir kali aku memperoleh gaji secara Cash karena untuk bulan – bulan berikutnya agak risky juga bawa uang banyak – banyak. Aku putuskan untuk membuka rekening BRI Syariah ketika itu. Pada bulan Februari gajiku sudah mencapai Rp1.560.000 dan pada bulan Maret Rp.2770.000 dan sekaligus menjadi bulan dimana HPku Pecah, pertama kali beli HP dengan uang sendiri, dan aku putus dengan pacarku pertama dan terakhirku serta mengakhiri masa jahiliyah dalam hal mencari jodoh (eh jadi curhat). 

Sebagai Intermezzo, tanggal 6 Agustus 2017 kemarin aku mengikuti kajian Ust. Felix Siauw di MJBJ. Beliau mengatakan, “Kalau anda – anda semua search saya di google sekitar tahun 2012, maka yang keluar adalah buku Udah, Putusin Aja yang membuat para cowo galau, cewe nangis dipojokan kamar, karena banyak diputuskan pacarnya setelah baca buku saya, nah sekarang kalau anda search saya, hasilnya adalah tentang pengajian Ust. Felix dibubarkan, hehe” serentak peserta kajian tertawa ketika itu. Nah, saya adalah salah satu korban buku tersebut. Tepatnya mantan saya lah yang menjadi korban, karena saya yang menghadiahkan buku tersebut kepadanya. Dari situ, saya bertekad untuk menjadi jomblo fii sabilillah. Selain karena hemat, juga mengikuti kewajiban saya sebagai seorang muslim. Udah mudeng kan kalau makan daging babi itu haram ?, jadi sebagai muslim kita gaboleh sama sekali mencicipi bahkan memakanya. Pacaran juga haram lho ! masa sama – sama haram dibedain sih perlakuanya hehe. FYI. Sampai sekarang saya masih jomblo, bagi akhwat yang mau dikhitbah dipersilahkan menghubungi nomer dibawah (eh wkwk). Ya meskipun, dalam perjalanan selama tiga tahun keimanan seseorang naik turun, dan pada praktiknya yang namanya pacaran itu bukan hanya status, tapi Alhamdulillah saya tidak mengulangi kesalahan yang telah saya perbuat sebelumnya. Tapiiii, mantanku bukan sebuah kesalahan yaaa, hanya jalanya saja yang kurang tepat. Aku tidak menangisi ataupun meratapi keberpisahan kita, tapi aku bersyukur bahwa engkau pernah ada di dalam hidupku, #eaaakk tereliye banget yak. 

Buku Felix Siauw

Waduh, engga terasa adzan subuh sudah berkumandang. Saat sholat shubuh dulu. Masuk pula chat whatsapp dari bapakku yang mengabarkan sudah dalam perjalanan bersama ibuku menjemputku di pelabuhan. Jadi mungkin sekitar satu jam lagi mereka sudah sampai. Kita lanjut ceritanya di part kedua yaak. CIAO. 

#Alfamart Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan.
Ditulis Sambil Menunggu Jemputan. 19 Agustus 2017 Pukul 03.00 Pagi. 

Comments

Popular posts from this blog

Satu, yang Seperti Itu

Aku duduk di kursi, ditemani secangkir kopi yang gakbikinkembung di meja dan sebuah buku di depan kacamata. Ini buku kedua yang kubaca malam ini untuk menemani sepi. Bukan malam, pukul 2.00 sudah masuk waktu pagi. Namun, tetap saja, kabarmu tak kunjung tiba. Kelopak mata atas dan bawahku pun tak kunjung bertegur sapa. Aku tak berdaya. Seandainya aku di sana, aku takkan membiarkanmu sendiri.
“Mas, maaf ya. Aku ada masalah fatal di kantor dan harus segera ke luar kota malam ini. Aku izin ditemenin supir kantor ya” ucapmu tadi sore.

Aku tersentak. Perjalanan malam dengan medan bukit dan hutan sejauh 80km bukanlah hal yang menarik untuk dibayangkan. Terutama oleh aku di sini, 1346km dari kamu. Berkas sidang di mejaku pun tak kuhiraukan lagi. Tapi apa daya?

Amour Vincit Omnia, Cinta Itu Mengalahkan Segalanya. Tapi, sejak aplikasi trave*loka tak banyak membantu, aku bisa apa? Aku menyerah. Menyerah pada jarak yang terbentang di antara kita. Aku pun hanya bisa berdoa. Menitipkan dirimu kepada…

#MeInPKNSTAN 2 - (Seleksi Kompetensi Dasar) SKD Lulusan PKNSTAN 2017 !

Jika ada hal yang membuatku tertekan semenjak tingkat satu berkuliah di PKNSTAN, jawabanya bukan karena IP ataupun bayang - bayang penempatan di seluruh Indonesia, bukan. Meskipun yaa tiap ada UAS/ UTS/ Pengumuman IP hal tersebut terasa mendebarkan, tetapi Tes Kompetensi Dasar (TKD), atau kalau di zamanku namanya Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) lebih menegangkan lagi wkwk. Bagaimana tidak, kalau tidak lulus satu seleksi ini, perjuanganku kuliah selama tiga tahun di PKNSTAN untuk menjadi seorang aparatur sipil negara, terutama di DJP bakal kandas. Hal tersebut karena salah satu syarat seseorang diangkat menjadi seorang ASN adalah harus melewati tes ini.

Bila teringat tiga tahun lalu, ketika kepala masih botak bagaikan cilok, muka masih imut belum banyak pikiran UAS, UTS, DO, Jadwal Kosong, dll, duduk di Student Center untuk mengikuti dinamika, mendengarkan direktur memberikan sambutan sekaligus tanya jawab. "Yang memilih anda masuk STAN (ketika itu nama kampusku masih STAN, red) ad…

#MeInPKNSTAN 8 - Pengumuman Instansi : Keikhlasan atas Pilihan dan Takdir

Ibarat sebuah siklus, kejadian yang pernah aku rasakan empat tahun yang lalu seakan terulang kembali. Aku terlempar dari zona nyaman, lagi. Seperti orang yang putus cinta, dua hari setelah pengumuman aku masih tidak percaya, ternyata aku diterima di pilihan pertama survey penempatan instansi : Setjen Kemenkeu. Dan itulah masalahnya. Makan tidak enak, sering melamun, dan pikiran terbang entah kemana. Dasar manusia plin plan ! Mungkin Sang Pemegang Nasib sampai berkata demikian, bagaimana aku awalnya sangat berharap, namun setelah harapan itu terwujud, justru aku mengingkari hasilnya.



Dengan hati yang bingung, kucoba menemui beberapa kolega terdekat. Dimulai dengan Iyan dan Udi di malam pengumuman instansi. Kebetulan kamar mereka di sebelah kamar kosku yang baru. “Kenapa kamu dulu milih Setjen? Kalo di DJP kan lumayan gajinya, iya to ? haha” Kata Iyan sambil menggerakkan tangan seolah memamerkan uang di depan mukaku sambil bercanda.”Kalo aku sudah fokus dengan si dia sal, di DJP insya …