Skip to main content

#MeInPKNSTAN 4 - Bertahan dengan Rp500.000/Bulan di PKNSTAN ? Siapa Takut ! (Part 2)

Kita lanjutkan cerita Rp500.000 per bulanya yaah, hehe. Untuk bulan – bulan bahkan tahun setelahnya kehidupan finansialku jadi lebih mudah. Kalau di bulan Maret 2015 aku Cuma beli HP Asus Zenfone 4, di bulan Januari 2016 aku bisa beli Iphone sendiri (lagi – lagi karena hapeku rusak!). Bahkan laptop yang aku buat ngetik tulisan ini aku beli sendiri di bulan April 2016 (karena laptopku yang lama menghilang ditikung maling). Bayang – bayang kehidupan kantong tipis mahasiswa pun memudar seiring dengan berjalanya waktu.

Tapi kawan, selalu ada trade off. Ketika finansialku membaik, bahkan sangat lebih dari cukup, waktu kosongku berkurang. Bagaimana tidak ? Aku mengajar dari hari senin hingga senin lagi, dari pulang kuliah hingga pukul 10 bahkan 12 malam ! Masalah utama kehidupan kampusku di PKNSTAN kemudian berubah dari yang semula masalah finansial menjadi keterbatasan waktu luang. Waktu, iya waktu. Dengan kesibukanku yang kampus-spc-kos setiap hari, waktu tiga tahun berlalu cepat sekali.

Menurut Faisal (2017, 0), ada dua hal yang dituntut untuk dimiliki oleh seorang mahasiswa begitu lulus dari sebuah kamus, yaitu kecakapan softskill dan kemampuan hardskill yang mumpuni huehue. Aku banyak belajar softskill ketika menjadi pengajar privat. Bagaimana bersosialisasi dari anak SD hingga anak yang sudah kuliah, tapi ingin mendaftar SBMPTN lagi. Dari siswa yang cenderung bebas dalam bergaul, easy going, dan tidak terlalu berpikir tentang studynya, hingga siswa yang sangat ulet dalam belajar, ngomongnya pakai bahasa inggris mulu, bahkan ujianya beda sama ujian – ujian anak SMA pada umumnya! Pernah suatu ketika aku punya murid yang memang materinya kurikulum luar negeri, dan kamu tau ? ternyata yang diajarkan di kelasnya sama kaya yang diajarkan waktu aku di Tekkim dulu ! wkw kabur dari tekkim masih tetep aja dapet materi yang sama haha. Akan tetapi, masalah muncul ketika aku sama sekali tidak punya waktu luang untuk belajar kawan. Aku terlalu asyik menekuni “hobby”-ku yang satu ini. Sehingga, ketika menyadari kesibukanku ini, aku ketika itu menargetkan yang penting lulus dan tidak DO di STAN.  Ya minimal IPku tiap semester 3.2 sampai 3.3 laah. Begitu targetku dulu.

Aku cuma punya waktu sekitar 1 jam sampai dengan 2 jam tiap hari untuk belajar. Itupun sudah mencuri – curi waktu. Kadang aku belajar setelah sholat subuh sambil menunggu waktu kuliah pagi dimulai. Di lain kesempatan, aku mencuri – curi waktu jam makan siang untuk belajar. Kalo di STAN kan biasanya ada jeda waktu antara jam 13.00 hingga jam 14.00 untuk makan dan sholat, nah salah satunya aku gunakan juga untuk baca – baca materi. Untuk malamnya ? Aku hampir tidak sempat belajar karena kesibukanku mengajar. Mungkin kalau pas ujian, aku sempatkan belajar sekitar setengah hingga satu jam setelah usai mengajar, itu pun aku bakal tidur terlambat. Lho ? Ujian juga ngajar ? Iya :3 Mengajar ketika UTS dan UAS adalah hal yang biasa bagiku ketika itu. Baru pulang pukul 10 hingga 12 malam ketika ujian pun aku pernah. Bukan karena uangnya, Bukan. Tapi karena aku merasa akan mengingkari tanggung jawab jika tidak melaksanakan tugasku walaupun aku sedang ujian. Belum lagi adek – adek yang aku ajari juga sedang ujian juga di sekolahnya.

Hal lain dari sempitnya waktu luang adalah keterbatasan pergaulanku. Positifnya adalah aku engga aneh – aneh, ga sempet mikirin yang namanya pacaran dan kroni – kroninya, negatifnya aku ndak punya banyak temen. Meskipun, dalam lingkunganku sebagai pengajar private aku mengenal banyak orang – orang baru dari teman sesama pengajar (banyak dari mahasiswa UIN lhoo), orang tua murid, hingga murid – muridnya juga, tapi di lingkungan kampusku aku kurang begitu settle. Sebenarnya bukan masalah pergaulan sih ya tepatnya, tapi masalah tanggung jawab atas amanah yang diberikan kepadaku. Sebagai ketua kelas (aku tiga tahun menjadi ketua kelas di tiga kelas berbeda!), aku merasa kurang begitu dekat dengan teman – teman kelasku. Bahkan di tingkat dua semester tiga, masa dimana aku lagi sibuk – sibuknya ngajar (karena engga hanya ngajar private, tapi ada proyek di sekolah internasional di Jakarta Barat), ada teman satu kelasku yang DO. Padahal sudah beberapa kali wakil ketua kelasku memperingatkan akan hal ini. Programku pun ga ada yang jalan di kelas. Tapi aku kurang begitu meresponnya hingga semuanya pun terjadi. Sampai sekarang, duuh, rasa bersalahnya masih ga ilang ilang. Seandainya aku bisa lebih perhatian ke kelasku, seandainya aku bisa lebih mengenal lebih dekat tiap – tiap orang yang ada di kelasku dulu, seandainya bukan aku ketua kelasnya, aku berharap mungkin kejadian ini bisa diminimalisasi. 
I’m so sorry, I’m just really sorry. I’m so selfish that day that I even didn’t care about my resposibilities. Setiap kali ku ingat raut muka ibumu dan dirimu saat itu, aku sungguh merasa bersalah. Betapa bodohnya diriku ini, betapa kurang ajarnya diriku hingga melalaikan kewajibanku dan menyakiti orang – orang yang engkau cintai. I'm just sort of looser. 
Beranjak dari hal tersebut, aku mulai sadar. Amanah memang tidak mudah, ada tanggung jawab yang sangat besar di baliknya. Aku berharap Allah Subhanahu wata’ala mengampuni kelalaianku sebagai pemimpin dan engkau memaafkanku karena kesalahanku. Untuk selanjutnya, mungkin kita cerita di bagian lain saja yak. Hehe

Satu hal nasihat ibuku yang sangat ku ingat hingga sekarang ketika aku mulai berkuliah di UGM dulu, “Mas, mungkin dalam perjalanan kuliahmu nanti, kamu bakal melihat teman – temanmu banyak yang usaha, banyak yang bisa memiliki penghasilan sendiri, dan mungkin kamu juga salah satunya. Tapi ingat, kamu tau kan kewajibanmu apa di sana ? Berusaha boleh, cari uang sendiri boleh, tapi tanggung jawabmu dalam menuntut ilmu adalah hal yang utama. Kuliah sampai lulus, jangan sampai uang yang tidak seberapa melalaikanmu dari kewajiban utamamu dalam menuntut ilmu”. Aku pernah hampir lalai dalam nasihat ibuku ini. Terlena sebagai pengajar, aku melalaikan tugas utamaku dalam belajar di kampus. Bahkan, aku pun merasa tidak takut kalau seandainya aku bermasalah dalam hal study di kampus, toh ngajar juga udah dapat uang yang lumayan kan?. Alhamdulillah, berkat doa ibuku, orang tuaku, aku tidak melenceng terlalu jauh. Aku bersyukur sekali, aku masih bisa menyadari batas – batas dan tanggung jawabku di sini. Aku bersyukur sekali masih  dikodein sama Allah Subhanahu Wata’ala untuk tidak melalaikan kewajibanku dalam menuntut ilmu, dengan cara apapun itu. Dan tentunya, aku juga bersyukur sekali, study ku di kampus dan mengajarku di private akur berjalan bersama.

Ceritaku ini bukan hanya berfokus sama uangnya saja ya, hehe karena tahukah kamu ? Masih banyak mahasiswa – mahasiswa PKNSTAN lain yang bisa menghasilkan lebih banyak penghasilan dalam satu bulan melebihi diriku. Terakhir kemarin denger dari temen, bahkan ada temenku yang bisa dapet belasan juta Cuma dari mengajar di bimbel STAN, Wow emejing !!. Tapi aku yakin, effort mereka pasti jauh lebih tinggi daripada yang aku lakukan. Jangan juga berfikir bahwa mahasiswa PKNSTAN kerjaanya Cuma belajar aja, kupu – kupu doang, sama sekali enggak benaar!. Banyak kok dari temen2ku yang mengajar baik private maupun di bimbel, jadi manajemen bimbel, bahkan buka bimbel sendiri ! Belum lagi para mahasiswa yang punya jiwa enterpreneurship, jualan apa gitu, mulai dari baju hingga buku. Banyak!. Jadi, keterbatasan bukan menjadi sebuah halangan. Ketika kita mendengar kalau uang kosan di PKNSTAN saat ini tinggi sekali, karena demand naik tapi supply tetap, you know lah, hehe Pasti ada jalan, jika kita mau berusaha, diiringi dengan doa.

Mungkin bisa jadi referensi Quotes, hehe

Pokoknya kalau ada kemauan dan keberanian, pasti bisa ! Intinya itu, wkw Jangan takut memulai, karena tahukah kamu ? Aku dulu orangnya pemalu sekali, bahkan mau daftar jadi pengajar private aja muterin tempat untuk mendaftarnya sampai dua kali, baru meneguhkan hati untuk masuk. Begitu di dalam, ketika tau mau di test micro teaching, aku sudah mau kabur aja karena takut ! haha Gimana seandainya aku kabur beneran coba malam itu ? Mungkin pengalamanku di STAN ga akan seramai ini, pelajaran yang ku dapat ga akan sebanyak yang aku dapat sekarang.

Akan tetapi, ingat yaa, ketika kita sudah memasuki suatu zona yang membuat kita nyaman akan suatu hal, cobalah untuk berfikir kembali, apakah tujuan disini, di kampus ini, sudah berjalan sesuai harapan ? Apakah jalan yang aku tempuh akan memudahkanku dalam mencapai tujuan tersebut ? Berusaha boleh, bekerja keras boleh, akan tetapi jangan lupa akan kewajibanmu dan tanggung jawab yang ada di pundakmu. Jangan takut akan rintangan yang akan engkau hadapi, tapi takutlah ketika engkau telah mampu mendapatkan cara untuk melampaui rintangan tersebut, tapi engkau lupa caranya tuk berhenti hingga melalaikan hal yang menjadi tujuanmu semula 😉

Kompleks DPR Pondok Ranji

27 Agustus 2017

Comments

Popular posts from this blog

Satu, yang Seperti Itu

Aku duduk di kursi, ditemani secangkir kopi yang gakbikinkembung di meja dan sebuah buku di depan kacamata. Ini buku kedua yang kubaca malam ini untuk menemani sepi. Bukan malam, pukul 2.00 sudah masuk waktu pagi. Namun, tetap saja, kabarmu tak kunjung tiba. Kelopak mata atas dan bawahku pun tak kunjung bertegur sapa. Aku tak berdaya. Seandainya aku di sana, aku takkan membiarkanmu sendiri.
“Mas, maaf ya. Aku ada masalah fatal di kantor dan harus segera ke luar kota malam ini. Aku izin ditemenin supir kantor ya” ucapmu tadi sore.

Aku tersentak. Perjalanan malam dengan medan bukit dan hutan sejauh 80km bukanlah hal yang menarik untuk dibayangkan. Terutama oleh aku di sini, 1346km dari kamu. Berkas sidang di mejaku pun tak kuhiraukan lagi. Tapi apa daya?

Amour Vincit Omnia, Cinta Itu Mengalahkan Segalanya. Tapi, sejak aplikasi trave*loka tak banyak membantu, aku bisa apa? Aku menyerah. Menyerah pada jarak yang terbentang di antara kita. Aku pun hanya bisa berdoa. Menitipkan dirimu kepada…

#MeInPKNSTAN 2 - (Seleksi Kompetensi Dasar) SKD Lulusan PKNSTAN 2017 !

Jika ada hal yang membuatku tertekan semenjak tingkat satu berkuliah di PKNSTAN, jawabanya bukan karena IP ataupun bayang - bayang penempatan di seluruh Indonesia, bukan. Meskipun yaa tiap ada UAS/ UTS/ Pengumuman IP hal tersebut terasa mendebarkan, tetapi Tes Kompetensi Dasar (TKD), atau kalau di zamanku namanya Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) lebih menegangkan lagi wkwk. Bagaimana tidak, kalau tidak lulus satu seleksi ini, perjuanganku kuliah selama tiga tahun di PKNSTAN untuk menjadi seorang aparatur sipil negara, terutama di DJP bakal kandas. Hal tersebut karena salah satu syarat seseorang diangkat menjadi seorang ASN adalah harus melewati tes ini.

Bila teringat tiga tahun lalu, ketika kepala masih botak bagaikan cilok, muka masih imut belum banyak pikiran UAS, UTS, DO, Jadwal Kosong, dll, duduk di Student Center untuk mengikuti dinamika, mendengarkan direktur memberikan sambutan sekaligus tanya jawab. "Yang memilih anda masuk STAN (ketika itu nama kampusku masih STAN, red) ad…

#MeInPKNSTAN 8 - Pengumuman Instansi : Keikhlasan atas Pilihan dan Takdir

Ibarat sebuah siklus, kejadian yang pernah aku rasakan empat tahun yang lalu seakan terulang kembali. Aku terlempar dari zona nyaman, lagi. Seperti orang yang putus cinta, dua hari setelah pengumuman aku masih tidak percaya, ternyata aku diterima di pilihan pertama survey penempatan instansi : Setjen Kemenkeu. Dan itulah masalahnya. Makan tidak enak, sering melamun, dan pikiran terbang entah kemana. Dasar manusia plin plan ! Mungkin Sang Pemegang Nasib sampai berkata demikian, bagaimana aku awalnya sangat berharap, namun setelah harapan itu terwujud, justru aku mengingkari hasilnya.



Dengan hati yang bingung, kucoba menemui beberapa kolega terdekat. Dimulai dengan Iyan dan Udi di malam pengumuman instansi. Kebetulan kamar mereka di sebelah kamar kosku yang baru. “Kenapa kamu dulu milih Setjen? Kalo di DJP kan lumayan gajinya, iya to ? haha” Kata Iyan sambil menggerakkan tangan seolah memamerkan uang di depan mukaku sambil bercanda.”Kalo aku sudah fokus dengan si dia sal, di DJP insya …