Skip to main content

#MeInPKNSTAN 2 - (Seleksi Kompetensi Dasar) SKD Lulusan PKNSTAN 2017 !

Jika ada hal yang membuatku tertekan semenjak tingkat satu berkuliah di PKNSTAN, jawabanya bukan karena IP ataupun bayang - bayang penempatan di seluruh Indonesia, bukan. Meskipun yaa tiap ada UAS/ UTS/ Pengumuman IP hal tersebut terasa mendebarkan, tetapi Tes Kompetensi Dasar (TKD), atau kalau di zamanku namanya Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) lebih menegangkan lagi wkwk. Bagaimana tidak, kalau tidak lulus satu seleksi ini, perjuanganku kuliah selama tiga tahun di PKNSTAN untuk menjadi seorang aparatur sipil negara, terutama di DJP bakal kandas. Hal tersebut karena salah satu syarat seseorang diangkat menjadi seorang ASN adalah harus melewati tes ini.

Bila teringat tiga tahun lalu, ketika kepala masih botak bagaikan cilok, muka masih imut belum banyak pikiran UAS, UTS, DO, Jadwal Kosong, dll, duduk di Student Center untuk mengikuti dinamika, mendengarkan direktur memberikan sambutan sekaligus tanya jawab. "Yang memilih anda masuk STAN (ketika itu nama kampusku masih STAN, red) adalah anda sendiri. Semua harus anda lalui, termasuk untuk lolos tes TKD di akhir nanti untuk menjadi PNS. Sehingga, tanggung jawab ada di tangan anda. Saya yakin, untuk anak - anak STAN lulus TKD adalah hal yang mudah karena USM STAN yang lebih sulit saja anda - anda dapat melewatinya,bukan ? Bila memang tidak lolos, maka ya sesuai prosedur yang berlaku" Kurang lebih begitulah jawaban Pak Direktur ketika menjawab pertanyaan salah satu maba saat itu. Duarr.. Bayang - bayang kuliah tiga tahun saja masih bingung, apalagi bila kuliah tiga tahun tersebut bakal sia - sia kalau tidak lulus tes TKD. Nebus ijazah Rp70jt bree kalau seandainya ga lulus TKD !

Tiga tahun berlalu, tak terasa wajah imut yang dulu pernah ada mulai memudar (wkwk), bayang - bayang TKD pun seolah menghilang karena kesibukan kuliah dan organisasi. Hingga suatu hari di PKL yang cerah muncul Jarkom dari Tim Harmoni (Tim Sukses Mahasiswa Akhir PKNSTAN) bahwa TKD akan dilaksanakan pada tanggal 14 s.d. 16 Agustus 2017 ! Satu bulan lagi ! Mungkin bukan cuma aku ya yang panik, gimana engga ? TKD tinggal satu bulan lagi tapi PKL masih dua minggu lebih tersisa. Sebenarnya dari tim TKD TPP sudah mempersiapkan kami untuk belajar TKD dari jauh - jauh hari sih, tapi ya namanya manusia, bersemangat muda, mendingan kerja lembur deadline daripada di cicilkan ? Lebih efisien waktu. wkw Niat awalku sih belajar sambil PKL, tapi ternyata pas PKL kerjaanya buanyaak banget. Ga gabut seperti bayanganku dan teman - teman sebelumnya.

Seminggu sebelum pelaksaan TKD/ seminggu setelah PKL, kami diwajibkan untuk mengisi survey pilihan instansi. Sebagai mahasiswa Prodi D3 Pajak, kami boleh memilih dua dari empat pilihan yang tersedia yaitu Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Sekretariat Jenderal (Setjen), Badan Kebijakan Fiskal (BKF), dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK). Jauh sebelum pemilihan instansi ini, sebenarnya aku ingin masuk BKF. Meskipun, normalnya mahasiswa pajak bakal mimilih DJP, tapi dengan masuk BKF katanya sering tugas di luar negeri. Lebih jauh lagi, katanya juga lebih gampang melanjutkan sekolah kalau kita masuk instansi ini. DJP ga kalah asyik sih, sebagai mahasiswa pajak, aku sering ikut volunteer di KPP sekitar kampus. Tugas - tugas pun banyak ke sana, sehingga sudah tidak asing lagi. Belum lagi, tunjangan di DJP kan paling gede :3 Tapi, di akhir aku memutuskan memilih (1) Sekretariat Jenderal (Setjen) dan (2) Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Kenapa demikian ? Aku pun bingung, haha. Hatiku masih belum begitu klop dengan DJP. Bukan masalah penempatan yang bisa dari ujung ke ujung, bukan. Justru Setjen malah memberikan ketakutan sendiri karena penempatan di Jakarta. Bayang - bayang macet, KRL penuh, banjirrr huaahh.. Tapi entah kenapa hati memilih dia, si Setjen yang terlihat lebih anggun di hati.



Hari Senin, 14 Agustus 2017, sesi ketiga, ruang C108, adalah waktuku berjuang menaklukan tiga tahun ketakutanku kuliah di pknstan. Aku duduk di deretan paling kanan, dua dari belakang. Di depanku ada Bonita, di kiriku ada Ayu, dan dibelakangku ada Bang Alex, tapi Bang Alex terpaksa pindah karena komputernya bermasalah. Posisi ini adalah posisi dimana aku selalu terbayang tes TKD. Bagaimana tidak ? Tiap pulang kuliah/ dari kampus, ketika lewat samping gedung C, terutama saat tes TKD kaka tingkat/ adek tingkat angkatan 2016 berlangsung, aku selalu mengamati mereka sambil jalan. "Gimana ya rasanya di dalam situ?". Dan saat ini, aku bisa melihat ke luar dengan jelas melewati dinding kaca yang biasanya aku hanya melihat orang lain tes TKD dari luar.

Soal pertama ku baca. Bahasa Indonesia ! Kedua juga Bahasa Indonesia ! Ketiga, Keempat, Kelima, sampai Ketuju ! Atau bahkan lebih. Ya Allah, kok ya dapet soal yang kaya gini. Teringat kata - kata ibuku ketika membesarkan hatiku ketika SMA dulu "iya, anak Ibu emg gada yang bisa bahasa Indonesia. Ibu pun demikian". Duuh, makin panik aku di dalam ruangan. Belum lagi TIU dan TKPnya ! Tapi, apapun yang terjadi, life must go on. Bismillah, ku serahkan semuanya kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Hingga 10 detik terakhir, aku sudah mengerjakan semua soal. Bukan karena bisa, tapi karena milih iseng - iseng berhadiah. 10 detik terakhir rasanya lamaaaa~. Kelenjar lakrimal bersemangat bekerja untuk membasahi mata karena gabisa mengerjakan, otot jantung bersemangat 45 hingga lupa bahwa sudah lewat 80x detakan per menit, arteri berkontraksi karena adrenalin yang tak terkontrol keluar, dan otak pun sudah ruwet karena para neuron di otak sudah demo karena kepanasan buat mikir. Ketika waktu habis dan muncul kata - kata "Lulus", Alhamdulillah! hatiku plong selega - leganya hati. Tiga tahun tertekan selesai sudah. Dan engkau tahu kawan, berapa nilai TKDku ? 447 ! Awalnya aku ngga sadar kalau nilaiku 447. Tanpa mengamati nilai lebih jauh, aku langsung bertanya ke Ayu, Bonita, Elsa, Baby dan teman  - teman disekitarku ketika itu. Eufaria kelulusan TKD menyebar. Pakdhe Doni, Budi, dan lainya juga!  Aku menarget yang penting lulus, berapapun nilainya, tapi Allah Subhanahu Wata'ala memberikan yang terbaik bagiku. Sebuah nikmat yang luar biasa, aku hanya meminta lulus TKD selama tiga tahun terakhir, tapi diberikan hal yang tidak aku sangka sebelumnya.



Kalau di tanya tips untuk TKD, mungkin ada beberapa hal yang aku lakukan sebelum tes berlangsung. Semenjak PKL, aku sudah mulai belajar, tapi apa daya, kurang maksimal karena tidur lebih nikmat huehue. Seminggu sebelum TKD, aku mulai fokus belajar. Aku ikut TO online dan baca buku TKD dari Tim TPP TKD. Biasanya malam dan pagi setelah subuh aku belajar dan mengerjakan TO online, terutama di bidang TWK. Selain itu, untuk menambah pengetahuan umum, aku juga baca - baca wikipedia, ga semuanya sih, cuma hal - hal yang membuatku tertarik, karena memang aku tertarik dengan hal - hal yang berbau sejarah. Aku rutinkan kegiatanku tersebut selama seminggu terakhir. Sehari sebelum tes, aku merasakan penat luar biasa. Pagi - pagi sekali aku pergi ke stasiun dan naik kereta ke Stasiun Juanda, mau kemana ? Ke Istiqlal ! Hehe Di sana sudah ada kajian Aa Gym dan Salim A Fillah. Dari Salim A Fillah aku dapet materi TWK (Karena bercerita tentang Islam di Nusantara sejak zaman Sriwijaya hingga Kemerdekaan, bagaimana beruntungnya kita karena Islam bisa menyebar secara masif seabad sebelum bangsa kolonial datang, sehingga kita punya semangat untuk berjuang), dan dari Aa Gym aku dapet materi menata hati. Pulang sampai kosan sekitar pukul 16.30 dan setelah maghrib aku lanjut ke Gramedia buat belajar, biar gratis hehe Lumayan kan bisa baca tiga buku sejarah SMA tanpa bayar, belum lagi ditambah biografi tokoh di bagian sejarah. Dan yang paling utama adalah meminta restu dari ayah, ibu, dan keluarga. Karena setiap keberuntungkan, kebaikan, yang kita dapat, merupakan doa - doa yang dipanjatkan oleh ibu/ orang tua kita untuk kita.

Akhirnya, di sinilah aku. Alhamdulillah, tes TKD/ SKD telah kulalui setelah tiga tahun berkuliah di pknstan. Tinggal KTTA di depan mata, setelah beres, berarti Yudisium, dan terakhir Wisudaaah.. Tiga tahun sungguh singkat kawan !

Kompleks DPR Pondok Ranji/ 18 Agustus 2017

Comments

Popular posts from this blog

Satu, yang Seperti Itu

Aku duduk di kursi, ditemani secangkir kopi yang gakbikinkembung di meja dan sebuah buku di depan kacamata. Ini buku kedua yang kubaca malam ini untuk menemani sepi. Bukan malam, pukul 2.00 sudah masuk waktu pagi. Namun, tetap saja, kabarmu tak kunjung tiba. Kelopak mata atas dan bawahku pun tak kunjung bertegur sapa. Aku tak berdaya. Seandainya aku di sana, aku takkan membiarkanmu sendiri.
“Mas, maaf ya. Aku ada masalah fatal di kantor dan harus segera ke luar kota malam ini. Aku izin ditemenin supir kantor ya” ucapmu tadi sore.

Aku tersentak. Perjalanan malam dengan medan bukit dan hutan sejauh 80km bukanlah hal yang menarik untuk dibayangkan. Terutama oleh aku di sini, 1346km dari kamu. Berkas sidang di mejaku pun tak kuhiraukan lagi. Tapi apa daya?

Amour Vincit Omnia, Cinta Itu Mengalahkan Segalanya. Tapi, sejak aplikasi trave*loka tak banyak membantu, aku bisa apa? Aku menyerah. Menyerah pada jarak yang terbentang di antara kita. Aku pun hanya bisa berdoa. Menitipkan dirimu kepada…

#MeInPKNSTAN 8 - Pengumuman Instansi : Keikhlasan atas Pilihan dan Takdir

Ibarat sebuah siklus, kejadian yang pernah aku rasakan empat tahun yang lalu seakan terulang kembali. Aku terlempar dari zona nyaman, lagi. Seperti orang yang putus cinta, dua hari setelah pengumuman aku masih tidak percaya, ternyata aku diterima di pilihan pertama survey penempatan instansi : Setjen Kemenkeu. Dan itulah masalahnya. Makan tidak enak, sering melamun, dan pikiran terbang entah kemana. Dasar manusia plin plan ! Mungkin Sang Pemegang Nasib sampai berkata demikian, bagaimana aku awalnya sangat berharap, namun setelah harapan itu terwujud, justru aku mengingkari hasilnya.



Dengan hati yang bingung, kucoba menemui beberapa kolega terdekat. Dimulai dengan Iyan dan Udi di malam pengumuman instansi. Kebetulan kamar mereka di sebelah kamar kosku yang baru. “Kenapa kamu dulu milih Setjen? Kalo di DJP kan lumayan gajinya, iya to ? haha” Kata Iyan sambil menggerakkan tangan seolah memamerkan uang di depan mukaku sambil bercanda.”Kalo aku sudah fokus dengan si dia sal, di DJP insya …