Skip to main content

#MeInPKNSTAN 8 - Pengumuman Instansi : Keikhlasan atas Pilihan dan Takdir

Ibarat sebuah siklus, kejadian yang pernah aku rasakan empat tahun yang lalu seakan terulang kembali. Aku terlempar dari zona nyaman, lagi. Seperti orang yang putus cinta, dua hari setelah pengumuman aku masih tidak percaya, ternyata aku diterima di pilihan pertama survey penempatan instansi : Setjen Kemenkeu. Dan itulah masalahnya. Makan tidak enak, sering melamun, dan pikiran terbang entah kemana. Dasar manusia plin plan ! Mungkin Sang Pemegang Nasib sampai berkata demikian, bagaimana aku awalnya sangat berharap, namun setelah harapan itu terwujud, justru aku mengingkari hasilnya.

Pengumuan Instansi


Dengan hati yang bingung, kucoba menemui beberapa kolega terdekat. Dimulai dengan Iyan dan Udi di malam pengumuman instansi. Kebetulan kamar mereka di sebelah kamar kosku yang baru. “Kenapa kamu dulu milih Setjen? Kalo di DJP kan lumayan gajinya, iya to ? haha” Kata Iyan sambil menggerakkan tangan seolah memamerkan uang di depan mukaku sambil bercanda.”Kalo aku sudah fokus dengan si dia sal, di DJP insya Allah terjamin” ditambah Udi memanasi. Kau tahu kawan, kadang sahabat memiliki caranya sendiri untuk memotivasi temanya yang sedang terjatuh, tidak terkecuali kedua orang tersebut. Menjatuhkan yang sudah jatuh mungkin jadi motivasi yang bagus, untuk sebagian orang.

Sedang fokus jadi bahan bercanda mereka berdua, dari bawah terdengar motor memasuki gerbang kos. Itu Dyan ! Tepat pada waktunya, orang – orang seperti inilah yang kubutuhkan, kawan. Ternyata dia datang untuk konsultasi pula. Ketika aku bingung karena terlempar dari DJP, Dyan justru bingung karena masuk ke DJP, bukan BKF pilihan pertamanya. “Mungkin ini hasil yang terbaik Sal, banyak yang menginginkan di posisimu, mendapatkan instansi yang kamu dapatkan” kata Dyan menasihati. Obrolan dengan Dyan malam itu sedikit banyak mengobati kebingunganku. Aku terlalu larut dalam keterpurukanku, tanpa menyadari, bahwa sahabatku yang satu ini sedang bingung pula, tapi malah dia yang lebih banyak menguatkanku. Dia pun berpesan untuk banyak mendengarkan tausyiah tentang takdir.

Iyan, Reza, Udi, Dyan, dan Diriku


Berbicara tentang motivasi, mungkin yang paling baik dalam hal motivasi adalah orang tua, khususnya Ibu. Beberapa hari setelah pengumuman instansi, orang tuaku datang ke kos untuk menghadiri wisuda. “Ibu kecewa kah aku memilih setjen dan aku justru masuk ke dalamnya ? bukan djp ?” ujarku menahan sakit dihati, masih belum menerima kenyataan, serasa ditolak sebelum nembak. “Ibu sudah bersyukur sekali kamu bisa lulus dari STAN. Kalo inget cerita awalmu di STAN dulu, Ibu sampai ga doyan makan lho mikirin kamu. Apapun instansinya, di syukuri, insya Allah itu yang terbaik” Jawab Ibu. “Aku nyeselnya itu pilihan pertamaku Bu, tapi kenapa justru aku menyesal ketika mendapatkan pilihan tersebut. Aku baru sadar itu bukan zonaku”. “Memang itu kamu yang memilih, tapi ingat, yang menggerakkan hati, yang menggerakkan untuk memilih bukan cuma kamu, tapi ada peran Allah pula” Jawab ibuku. Seketika aku tersadar. Iya, kalau dipikir – pikir, alasanku dulu memilih setjen memang sedikit nyeleneh. Pun, kondisi ketika itu membuatku melupakan segala hal tentang perpajakan. Dalam jangka pendek, semua hal  berkelindan di dalam kehidupanku ketika itu, yang mengarahkanku untuk memilih setjen. Teringat percakapan dengan Tari tentang Setjen di tingkat dua, obrolan dengan Kak Berkah tentang gaji kemenkeu di Puskes Kebayoran, Suasana Indahnya PKL yang masih terasa, Tausyiah tentang halal-haram yang menyentuh hati, hingga suasana hati seorang pemuda JFS (Jomblo fii sabilillah) kala itu, semuanya terasa berkumpul dan mensupportku untuk melupakan DJP dan memilih setjen.

Ohiya, cerita awalku di STAN itu bukan tentang aku lho yaa. Jadi, pas tingkat satu dulu ada cerita mulut ke mulut tentang anak STAN yang lari bolak – balik dari Lotte Mart Bintaro ke Kampus karena katanya engga siap ujian. Padahal, jarak Lotte ke Kampus lumayan lho. Belum lagi cerita yang entah benar atau tidak, seorang mahasiswa yang sampai harus dibawa ambulan menemui psikiater karena engga siap pula ikut ujian Katanya kepalanya tiba – tiba pusing sekali. Yang lebih seremnya lagi, dia berasal dari kelas X ! Itulah yang membuat Ibuku jadi engga doyan makan.

Di lain kesempatan, aku cerita pula ke Dora ketika kebetulan jadi ojek dadakan, salah satu sahabatku yang lain. Setelah aku solat, dan mager naik lift ke lantai atas gramedia karena seharian muterin roxy buat cari HP, akhirnya kata – kataku meluncur begitu saja mengisi keheningan tempat duduk di depan mushola yang ada di depan lift. “Itu mungkin yang terbaik bagimu, Bi. Untuk Ilmu Pajak yang mungkin engga kepake di setjen, itu bukan masalah. Toh, dulu pas kita SMA di IPA kan ? dan ketika masuk di STAN, kita engga belajar biologi, kimia, dan pelajaran IPA lainya ? Udah, tenang aja, setjen bagus kook ! Jadi alasan kenapa pas aku tanya tentang setjen di kampus dulu bilang gausah dipikirin ini to, haha” Ujar Dora. Aku masih duduk menghayati kata – kata Dora di samping mbak – mbak karyawan Gramedia yang kebetulan lagi sama – sama khusyu’ video call dengan pacarnya di sebelahku. Benar juga, aku tersadar kembali. Sebuah nasihat terbaik yang memang aku tunggu dari dirinya.

Wakil Ketua Kelas Terbaik dan Tak Dianggap (sesuai nama kontak di hpku yg dia kasih sendiri!), Ayu, turut serta menjadi pendengar kegalauan atas ke plin plananku. “Aku yakin kamu bisa kok ! Kamu ~…” Belum selesai Ayu bicara, sudah aku potong. “Iya tapikan ngomongnya enak Yu, kalau bagimu gampang, tapi bagiku engga semudah itu”. Ujarku sewot. “Tapi saaal . . .”, ku potong lagi dengan semangat ’45. “Coba deh kalo kamu aku bilang dapat nilai AKL A- itu gampang, atau dapat IPK 3.7 itu gampang, gimana yu ?” Ujarku sewot lagi, kebetulan di atas meja ada tumpukan SKL teman – teman sekelas, sehingga IPK dan nilai pun jadi korban pula. Kurang ajar betul kata – kataku saat itu. Ini sudah menyentuh hal yang sangat pribadi, dan aku menyerangnya secara langsung. Dan aku sudah mencapai tingkat kesombonganku. Astaghfirulloh. Padahal aku yang meminta bantuanya, bukan dia yang menawarkan. Padahal tidak akan masuk surga orang yang ada minimal sebiji zarrah kesombongan di hatinya. Duuh, maaf beribu maaf ya Yu.

Tapi bukan wakil terbaik namanya jika tidak memberikan solusi terbaik. Sambil menunggu hujan reda malam itu di Gd K, ketika tugas kami sudah selesai, dia mengajakku untuk menonton Mr Nobody. Karena hujan sudah reda dan filmnya belum kelar, akhirnya aku nonton sendiri di kosan atas desakan yang mulia mantan wakil ketua kelas yang naik jabatan jadi adek. Tahukan engkau kawan ? Ternyata film ini secara tidak langsung merupakan jawaban atas pertanyaan dan kegalauanku siang tadi. Sebuah film tentang takdir, jawabanya ngena banget ! Walaupun mungkin tidak sepenuhnya bisa kami percaya, tapi menguatkanku untuk menatap masa depan dengan kepala tegak. Terima kasih Ayu, Wakil Terbaik.

Terakhir, sebagai pengingatku, aku menulis tentang saran Dyan, tentang hal yang berkaitan dengan takdir. Ustadz Adi Hidayat membahas tentang perbedaan Qadar dan Takdir. Ada dua jenis Qadar, yakni Rizki dan Ajal. Tiap orang telah ditetapkan Ajal dan Rizkinya sejak 4 bulan kandungan, dan kedua hal tersebut saling berkelindan. Rizki tiap orang telah ditetapkan di langit dan tidak akan berkurang maupun bertambah sedikitpun, seperti ajal. Sekarang tinggal bagaimana cara kita menjemput rizki tersebut dari langit untuk dikebumikan. Menurut beliau,  di dalam Alquran, setiap manusia bisa mencari rizki yang halal dan baik di muka bumi. Sedangkan bagi yang mukmin, semakin engkau beriman, semakin engkau dekati Sang Pemberi rizki, maka akan didekatkan pula rizki yang telah ditetapkan di langit kepada engkau. Yang perlu kita lakukan hanya berusaha, perkara hasil biarlah itu urusan Allah. Sedang cicakpun hanya merayap di dinding, engga bisa terbang, tapi tetep bisa makan juga to ? Makan nyamuk yang secara logika bisa terbang, tapi malah mendekatkan dirinya ke cicak. Yang penting cicaknya berusaha, berusaha merayapkan dirinya mencari nyamuk terdekat. Ketika sudah dekat, Hap, lalu ditangkap !


Seperti empat tahun yang lalu. Semoga kali ini aku lebih berprasangka yang baik kepada Allah. Semoga aku tidak berkeluh kesah lagi seperti dulu. Suatu saat aku akan membaca tulisan ini lagi, dan seperti beberapa saat yang lalu ketika aku menyadari kejadian empat tahun lalu, aku akan sadar, bahwa takdir yang telah ditentukan Allah untukku, melalui berbagai sistem yang bekerja padanya, adalah yang terbaik bagiku. Bismillahirrahmanirrahim !

Comments

Popular posts from this blog

Satu, yang Seperti Itu

Aku duduk di kursi, ditemani secangkir kopi yang gakbikinkembung di meja dan sebuah buku di depan kacamata. Ini buku kedua yang kubaca malam ini untuk menemani sepi. Bukan malam, pukul 2.00 sudah masuk waktu pagi. Namun, tetap saja, kabarmu tak kunjung tiba. Kelopak mata atas dan bawahku pun tak kunjung bertegur sapa. Aku tak berdaya. Seandainya aku di sana, aku takkan membiarkanmu sendiri.
“Mas, maaf ya. Aku ada masalah fatal di kantor dan harus segera ke luar kota malam ini. Aku izin ditemenin supir kantor ya” ucapmu tadi sore.

Aku tersentak. Perjalanan malam dengan medan bukit dan hutan sejauh 80km bukanlah hal yang menarik untuk dibayangkan. Terutama oleh aku di sini, 1346km dari kamu. Berkas sidang di mejaku pun tak kuhiraukan lagi. Tapi apa daya?

Amour Vincit Omnia, Cinta Itu Mengalahkan Segalanya. Tapi, sejak aplikasi trave*loka tak banyak membantu, aku bisa apa? Aku menyerah. Menyerah pada jarak yang terbentang di antara kita. Aku pun hanya bisa berdoa. Menitipkan dirimu kepada…

#MeInPKNSTAN 2 - (Seleksi Kompetensi Dasar) SKD Lulusan PKNSTAN 2017 !

Jika ada hal yang membuatku tertekan semenjak tingkat satu berkuliah di PKNSTAN, jawabanya bukan karena IP ataupun bayang - bayang penempatan di seluruh Indonesia, bukan. Meskipun yaa tiap ada UAS/ UTS/ Pengumuman IP hal tersebut terasa mendebarkan, tetapi Tes Kompetensi Dasar (TKD), atau kalau di zamanku namanya Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) lebih menegangkan lagi wkwk. Bagaimana tidak, kalau tidak lulus satu seleksi ini, perjuanganku kuliah selama tiga tahun di PKNSTAN untuk menjadi seorang aparatur sipil negara, terutama di DJP bakal kandas. Hal tersebut karena salah satu syarat seseorang diangkat menjadi seorang ASN adalah harus melewati tes ini.

Bila teringat tiga tahun lalu, ketika kepala masih botak bagaikan cilok, muka masih imut belum banyak pikiran UAS, UTS, DO, Jadwal Kosong, dll, duduk di Student Center untuk mengikuti dinamika, mendengarkan direktur memberikan sambutan sekaligus tanya jawab. "Yang memilih anda masuk STAN (ketika itu nama kampusku masih STAN, red) ad…