Skip to main content

MeInPKNSTAN 10 - "Nanti Nikahnya Umur 27 Tahun ya Mas!", Ujar sang Kakek

Hari ini adalah hari Jumat. Jam dinding masjid An Nashr menunjukkan pukul 10.00 lebih sedikit, yang artinya Sholat jumat masih lama dimulainya. Aku menunggu balasan dari Tahta tentang revisi sertifikat teman -teman panitia TPP 2017 yang barusan dikoreksi oleh Pak Tom. "Mau pulang tanggung", pikirku. Akhirnya meluncur lah aku ke masjid di samping kampus. Suasana masjid masih sepi. Hanya ada satu dua mahasiswa baru yang kebetulan mungkin sudah selesai kuliah, duduk untuk menunggu Sholat Jumat. Aku duduk di pojok belakang masjid, karena ini tempat yang paling strategis untuk bersandar dan bersantai. Dari kejauhan ku lihat ada seorang kakek yang mengobrol dengan seorang mahasiswa, asik betul pikirku. Lalu, aku kembali larut dalam lamunan panjangku.

Masjid An Nashr
"Masih kuliah atau sudah bekerja, Mas ?" Aku kaget, ternyata kakek yang tadi kulihat, sudah duduk disampingku. "Masih kuliah Pak, D3, tapi hari selasa besok sudah wisuda, hehe", jawabku. "Wah, bagus itu, nanti setelah lulus langsung lanjut kuliah ya mas, sambil kerjaa..", balas sang Kakek lagi. "Wah gimana ya Pak, kalau menurut aturanya sih harus nunggu dua tahun dulu", jawabku, teringat aturan izin belajar dan tugas belajar yang harus menunggu dua tahun kerja dulu menurut aturan di Kementerian Keuangan. Dari situ, obrolan kami berlanjut

Kakek tersebut telah berumur 89 tahun. Terlahir di Ngawi, ketika Belanda masih mengeruk kekayaan bumi pertiwi. Setelah menamatkan SD di kota kelahiranya, beliau merantau ke Solo. "Saya kira, dulu SD itu sudah sekolah yang paling tinggi lho Mas karena di Ngawi dulu cuma ada SD. Ketika saya tanya ke teman pesantren saya di Solo dulu, 'lho? mereka itu dari mana? sekolah apa?', teman saya menjawab, 'mereka sekolah SMP', dari situ saya baru faham, ternyata masih ada to sekolah di atas SD, haha".  Akhirnya, karena semangat menuntut ilmu, beliau melanjutkan sekolahnya di Kota Solo. Yang unik dari beliau saat itu adalah, ketika malamnya belajar agama di Pesantren di Solo, paginya beliau menuntut ilmu di Sekolah SMP Katholik Belanda. "Karena dulu saya masih remaja, dan semangat masih berapi - api, saya sering berbeda pendapat dengan guru Katholik di SMP saya dulu. Saya menjadi siswa yang paling kritis di kelas terkait konsep tauhid Mas. Tapi, itu tidak membuat mereka marah, justru saya menjadi murid kesayangan, karena saya siswa yang paling kritis di kelas", ungkapnya. Beliau menekankan, kita boleh bermuamalah dengan siapapun, akan tetapi prinsip - prinsip agama yang telah dia anut tidak boleh dicampur adukkan.

Lepas beliau SMP, beliau tidak dapat langsung melanjutkan ke jenjang SMA karena ketika itu terjadi perang kemerdekaan. Beliau tergabung ke dalam Laskar Hizbullah untuk bahu membahu bersama pelajar yang lain mempertahankan kemerdekaan Indonesia. "Ketika perang mereda, saya kembali ke Ngawi Mas. Tapi, semua kereta dari Solo gabisa dipakai, penuh semua. Akhirnya, saya memutuskan jalan kaki dari Solo ke Ngawi". ceritanya. "Waduh, jauh banget itu Pak?" Sahutku, sambil membayangkan dulu saja saat Aku pergi dari Solo ke Ngawi naik mobil sudah kerasa jauh banget!.

Pada tahun 1948, Partai Komunis Indonesia sedang memberontak di Madiun. Pemikiran PKI telah meracuni pula sebagian penduduk Ngawi, terutama mereka yang bekerja sebagai buruh di perkebunan. Atas iming - iming sama rata dan sama rasa, mereka mulai memberontak kepada tuan - tuan tanah yang mempekerjakan mereka dan merampas persedian beras di lumbung - lumbung padi milik warga. Ketika itu, sang Kakek sedang berada di Ngawi, melihat pemberontakan yang meluas, beliau segera berlari untuk meminta bantuan ke batalyon Siliwangi yang kebetulan berada di dekat situ. "Saat  itu, sudah berhadap - hadapan mas antara pemberontak dan TNI. Dari pihak PKI yang di barisan depan ya tentunya para buruh - buruh tadi, petinggi partai berlindung di belakang mereka.", karena keunggulan perlengkapan dan strategi, akhirnya PKI di Ngawi pun berhasil di tundukkan.

Musuh dari dalam negeri sudah berhasil di tumpas. Tetapi, ternyata, Belanda yang telah lama menikmati kekayaan Indonesia kembali lagi untuk menguasai Indonesia. Kali ini sang Kakek berniat untuk bergabung dengan tentara, akan tetapi ditolak oleh sang Ibundanya. "Ketika itu, ayah saya sudah almarhum, saya katakan ke Ibu saya, 'kita mau menjadi apapun Bu, kalau memang belum ditakdirkan untuk mati, tidak akan mati. Ijinkan lah saya membela tanah air saya dengan bergabung dengan tentara Bu", benar kan mas ? Kalo takdir kita masih diberikan umur oleh Allah, maka kita juga akan tetap hidup di dunia". Akhirnya, restu dari Ibunda pun di dapat, dan karena pengalamanya di Laskar Hizbullah, sang Kakek diberikan posisi sebagai komandan pasukan saat itu.

Benar saja, ketika terjadi pertempuran, sang Kakek demi meningkatkan moral para pasukanya, berdiri di barisan paling depan. "Perang itu mas, yang dibutuhkan mental bertahan hidup. Orang yang saling tembak - menembak, jika sudah panik, itu sebenernya asal aja, yang penting diarahkan ke musuhnya. Tapi, bagi yang punya mental bagus, mereka  membidik musuhnya dengan baik. Waktu itu saya sengaja berdiri di depan untuk memotivasi pasukan saya, Alhamdulillahnya ga ada peluru satupun yang kena badan saya, dan anak buah saya mengira kalau komandanya kebal peluru. Padahal ya karena ga ada peluru yang kena,haha Dari situlah moril pasukan saya naik".
Pernah di lain kesempatan, sang Kakek di kepung oleh belasan pasukan Belanda di suatu desa. Anah buahnya sedang pergi keluar desa untuk mencari perbekalan. "Kalau dibayangkan dulu mas, kayanya udah ga ada harapan untuk hidup lagi, lawong udah dikepung gitu dengan senjata lengkap. Tapi, kembali lagi, kalau takdir saya belum mati ketika itu, saya pasti selamat. Alhamdulillah, dengan sedikit tipu muslihat, saya berhasil lolos dari kepungan pasukan Belanda".

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan selesai dengan ditandatanganinya Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. Sang Kakek memilih untuk keluar dari tentara karena merasa pendidikan jauh lebih penting baginya, meskipun saat itu dia menjabat sebagai komandan. "Wah, berarti Bapak termasuk veteran ya?" tanyaku. "Kalau veteran perang, iya Mas. Tapi kalau terdaftar sebagai veteran, saya memilih tidak, saya ikhlas tidak mengharapkan apa - apa dari perjuangan saya", jawabnya.

 Sebagai eks tentara pelajar, beliau bisa tetap melanjutkan sekolah yang tertunda karena perang kemerdekaan. SMA dilewati oleh beliau dengan mulus, hingga akhirnya beliau masuk kuliah di UGM. Dan kau tahu kawan ? Ternyata aku dan sang Kakek satu almamater-meskipun aku cuma setahun di sana- yaitu Teknik Kimia! Kalau dipikir - pikir, menurut sejarah teknik kimia UGM, pada tahun sang kakek berkuliah, yaitu sekitar tahun 50an, berarti sang Kakek merupakan generasi awal mahasiswa di Teknik Kimia UGM.

Gelar insinyur merupakan gelar yang sangat prestisius ketika itu, mengingat masa - masa itu belum banyak orang yang kuliah. "Ketika itu yang punya gelar ini sangat dihormati Mas, dari bawah hingga keluarga ningrat. Saya bahkan sempat ditawarkan menikah dengan keluarga ningrat di Solo. Tapi, mengingat saya berasal dari keluarga desa dan saya takut Ibu saya diremehkan, saya memilih untuk menolaknya" kenang sang Kakek. Perjalan hidup beliau berlanjut ke Jakarta, setelah menolak posisi sebagai direktur di sebuah perusahaan di Jawa Timur. Di Jakarta beliau bekerja di bagian marketing di perusahaan besar ketika itu.

"Kalau kerja, yang penting ikhlas menjalani pekerjaanya. Jangan hanya mengejar gaji. Saya jalani itu semua dengan ikhlas. Hasilnya ? Ketika saya di jakarta biasanya naik sepeda ke tempat kerja, saya tiba - tiba diberikan fasilitas mobil pribadi lengkap dengan sopirnya, kaget saya ketika itu". Perjalanan sang Kakek terus berlanjut di Jakarta hingga pensiun. Bahkan, setelah pensiun dari perusahaanya, sang Kakek pun masih dipercaya sebagai konsultan bisnis.

Sholat jumat pun dimulai. Khatib naik ke mimbar untuk menyampaikan khutbahnya. Kami berdua berhenti mengobrol dan khusyu' mendengarkan khatib berceramah dan melaksaakan Sholat Jumat.

Selesai sholat jumat, sang Kakek kembali berpesan, "Mas, yang penting, kamu jangan lupa sama pendidikanmu, sekolah lagi, jangan berhenti di D3". "Baik Pak, siaap". "Ohiya, nanti kalau nikah ya sekitar umur 27 tahun ya, biar pas. Nanti punya anak dua, dan jaraknya dua tahun, jadi pas anakmu lulus kuliah, kamu pas pensiun hehe". "Waduh, siap Pak, kalau lebih cepet dari 27 tahun gimana Pak?" tanyaku. "Waah, lebih bagus itu, tapi inget, jangan lupa sekolahnya !".

Jama'ah Sholat Jumat di masjid An Nashr sudah mulai bubar. Aku pun iseng bertanya kepada sang Kakek yang sudah siap - siap meninggalkan masjid "Pak, tadikan nikah umur 27 tahun, nah tipsnya memilih istri gimana ya Pak?". "Haha, nanti saja kalau kamu sudah serius, datang ke rumah saya, kita ngobrol lebih jauh" jawab sang Kakek sambil memberitahu alamat rumah beliau. "Hehe, oke deh Pak. Ohiya, nama Bapak siapa ya ?" tanyaku lagi. "Mustajab", jawab beliau sambil menyalamiku."Ohiya, nanti saya jadi pembicara sebagai saksi hidup PKI di nonton bareng film G30SPKI di sini, kalau luang nonton ya !", ujarnya menutup pembicaraan.

Mustajab. Nama itu tidak asing bagiku. Teringat olehku cerita Ibu tentang Kakek buyut pemberani yang menantang PKI seorang diri untuk melindungi keluarganya, yang kebetulan namanya sama dengan sang Kakek. Sebuah takdir yang mempertemukanku hari itu dengan sang Kakek, yang ternyata memiliki beberapa hal yang sama dengan diriku.

Dari jauh ku lihat sang Kakek berjalan menjauh, sambil dituntun oleh anaknya, beliau menyalami para jama'ah yang lain yang umurnya mungkin tidak jauh dari beliau. Kulihat muka bahagia sang Kakek, menikmati masa tuanya. Terima kasih Kek atas cerita, atas motavasi, dan atas Nasihatnya.

Aku cek lagi HPku. Ternyata ada pesan masuk dari Tahta yang mengabarkan dirinya masih dalam  perjalanan dari Bandung. Baiklah, setelah sekian lama menunggu, aku harus kembali lagi ke kampus hari senin. "Ikhlas", ku ingat kembali pesan dari sang Kakek. Jam dinding menunjukkan pukul 13.00 lebih sedikit, dan aku pun memutuskan untuk pulang.

*Di Sebuah Rumah di Pinggir Desa,
05 November 2017, ketika Beberapa Tahun Lalu 03 November.

Comments

Popular posts from this blog

Satu, yang Seperti Itu

Aku duduk di kursi, ditemani secangkir kopi yang gakbikinkembung di meja dan sebuah buku di depan kacamata. Ini buku kedua yang kubaca malam ini untuk menemani sepi. Bukan malam, pukul 2.00 sudah masuk waktu pagi. Namun, tetap saja, kabarmu tak kunjung tiba. Kelopak mata atas dan bawahku pun tak kunjung bertegur sapa. Aku tak berdaya. Seandainya aku di sana, aku takkan membiarkanmu sendiri.
“Mas, maaf ya. Aku ada masalah fatal di kantor dan harus segera ke luar kota malam ini. Aku izin ditemenin supir kantor ya” ucapmu tadi sore.

Aku tersentak. Perjalanan malam dengan medan bukit dan hutan sejauh 80km bukanlah hal yang menarik untuk dibayangkan. Terutama oleh aku di sini, 1346km dari kamu. Berkas sidang di mejaku pun tak kuhiraukan lagi. Tapi apa daya?

Amour Vincit Omnia, Cinta Itu Mengalahkan Segalanya. Tapi, sejak aplikasi trave*loka tak banyak membantu, aku bisa apa? Aku menyerah. Menyerah pada jarak yang terbentang di antara kita. Aku pun hanya bisa berdoa. Menitipkan dirimu kepada…

#MeInPKNSTAN 2 - (Seleksi Kompetensi Dasar) SKD Lulusan PKNSTAN 2017 !

Jika ada hal yang membuatku tertekan semenjak tingkat satu berkuliah di PKNSTAN, jawabanya bukan karena IP ataupun bayang - bayang penempatan di seluruh Indonesia, bukan. Meskipun yaa tiap ada UAS/ UTS/ Pengumuman IP hal tersebut terasa mendebarkan, tetapi Tes Kompetensi Dasar (TKD), atau kalau di zamanku namanya Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) lebih menegangkan lagi wkwk. Bagaimana tidak, kalau tidak lulus satu seleksi ini, perjuanganku kuliah selama tiga tahun di PKNSTAN untuk menjadi seorang aparatur sipil negara, terutama di DJP bakal kandas. Hal tersebut karena salah satu syarat seseorang diangkat menjadi seorang ASN adalah harus melewati tes ini.

Bila teringat tiga tahun lalu, ketika kepala masih botak bagaikan cilok, muka masih imut belum banyak pikiran UAS, UTS, DO, Jadwal Kosong, dll, duduk di Student Center untuk mengikuti dinamika, mendengarkan direktur memberikan sambutan sekaligus tanya jawab. "Yang memilih anda masuk STAN (ketika itu nama kampusku masih STAN, red) ad…

#MeInPKNSTAN 8 - Pengumuman Instansi : Keikhlasan atas Pilihan dan Takdir

Ibarat sebuah siklus, kejadian yang pernah aku rasakan empat tahun yang lalu seakan terulang kembali. Aku terlempar dari zona nyaman, lagi. Seperti orang yang putus cinta, dua hari setelah pengumuman aku masih tidak percaya, ternyata aku diterima di pilihan pertama survey penempatan instansi : Setjen Kemenkeu. Dan itulah masalahnya. Makan tidak enak, sering melamun, dan pikiran terbang entah kemana. Dasar manusia plin plan ! Mungkin Sang Pemegang Nasib sampai berkata demikian, bagaimana aku awalnya sangat berharap, namun setelah harapan itu terwujud, justru aku mengingkari hasilnya.



Dengan hati yang bingung, kucoba menemui beberapa kolega terdekat. Dimulai dengan Iyan dan Udi di malam pengumuman instansi. Kebetulan kamar mereka di sebelah kamar kosku yang baru. “Kenapa kamu dulu milih Setjen? Kalo di DJP kan lumayan gajinya, iya to ? haha” Kata Iyan sambil menggerakkan tangan seolah memamerkan uang di depan mukaku sambil bercanda.”Kalo aku sudah fokus dengan si dia sal, di DJP insya …