Skip to main content

#MeInPKNSTAN 11 - Rintik Perpisahan SPC di Sore Hari

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 6 November 2017, sang Maestro lapangan hijau, Pirlo, mengumumkan pensiun dari sepak bola. Berita itu membuka kembali memori lamaku, tentang Jumbo, Lukas, Harun dan teman - teman SMP lain yang kebetulan sama - sama gila bola dan  sering bertanding PES di kelas. 27 Tahun bukan waktu yang singkat dalam berkarir, kawan, tapi ketika sudah sampai waktunya, maka akan ada saatnya kita mengucapkan salam perpisahan. Kadang, bukan karena kita mau, tapi memang ada sebuah akhir yang telah menunggu. Menyisakan memori kenangan dan rindu.

Allahumma Shoyyiban Nafi'an. Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat. Dua hari ini, hujan turun tanpa bosan. Kombinasi  dingin hujan dan empuknya sofa membuatku terlelap dari siang hingga sore. Ku lihat lampu notifikasi HP di atas meja  berkedip biru, lain dari biasanya, mengabarkan ada SMS masuk. "Saldo Masuk ?" gumamku bingung. Masih dalam proses mengumpulkan nyawa, aku buka beberapa chat WA. Ternyata, ada chat dari Kak Nina dan aku segera sadar dari mana uang tersebut berasal. Fee terakhirku sebagai pengajar SPC.

Salah satu target awal masuk STAN (*Sorry Bad English :p)
Tiga tahun sudah sejak debutku mengajar di SPC pada bulan November 2014. Meskipun pernah memiliki rencana untuk menjadi pengajar, tapi aku tidak membayangkan sejauh ini. Adalah Kak Ibnu, pemilik SPC, yang merekrutku untuk bergabung di bimbelnya. "Bagus. Karena pengalaman Kaka, kalau mereka cuma mau cari - cari pengalaman aja, nanti gampang bosen", ujar Kak Ibnu ketika mendengar alasanku untuk menambah uang saku dan menjaga ilmu ku ketika wawancara pengajar malam itu. Dari situ, petualanganku sebagai pengajar dimulai.

Setelah berbagai pelatihan, akhirnya aku diberikan kesempatan untuk terjun ke lapangan. Murid pertamaku adalah Rifat, dengan mata pelajaran Matematika, bab Matriks. Sambil menunggu jemputan di depan GKI, aku buka - buka lagi materi Matriks di dalam HP. "Susah sekaliiii" pikirku ketika itu. Ditambah rasa grogi karena pertama kali akan mengajar. Tapi kawan, terkadang rasa takut yang diakibatkan bayang - bayang kecemasan  itu terlalu berlebihan. Akhirnya jemputan pun tiba, dan saat itulah aku mengenal Kak Bowo dan motor Jupiter MX berwarna hijau miliknya, spesialis antar-jemput pengajar SPC. Kak Bowo-lah yang menjadi sahabat dan teman cerita dalam perjalananku di saat cerah maupun hujan badai menuju dan pulang dari rumah para murid hingga aku mengendarai motor sendiri hampir dua tahun setelahnya.

Sampai di tempat bimbel, yang saat itu masih di Jalan Kenari Sektor 2,  aku bertemu dengan Kak Nina untuk pertama kalinya. Pembawaanya yang asik dan ramah membuat nyaman siapa saja yang kenal dengan Kak Nina. Hari - hari berikutnya, Kak Nina sudah seperti Kakaku sendiri, sering maksa minum vitamin apalagi kalau anak - anak lagi ujian, ngingetin makan, marah kalau ga bawa jaket,  dan  merupakan cewek yang paling sering WAnya masuk ke HPku, karena menanyakan jadwal mengajar setiap hari, dari senin sampai minggu. *Bakal kangen nih Kak :". Alhamdulillah, Kak Nina bulan depan Insya Allah Akad Nikah, semoga SAMAWA ya Kak, sayang undanganya belum sampai Lampung :".

Pada kesempatan pertama mengajar, aku hanya mengajar setengah sesi, melanjutkan Kak Ibnu. Duuh, groginya minta ampun!. Satu hal yang aku pelajari dari situ, kalau kamu grogi pas ngajar/ presentasi, anggap aja orang yang kamu hadapi enggak tau apa - apa. Meskipun, kenyataanya, Rifat ini pinter banget lho, yang penting PD ajaaa... Saran lain, pas mau ngajar brevet tingkat tiga dulu, dimana aku kaget setengah hidup setelah tahu pesertanya direktur - direktur dan praktisi perusahaan, Pak Benny bilang, "Anggep aja orang - orang yang di depanmu itu kelinci semua sal, kan lucu - lucu, hehe".

Ngomong - ngomong tentang murid pertamaku ini, terakhir ketemu dia pas mau naik ke kelas XI dan pamit mau melanjutkan sekolah ke Los Angeles. Mungkin sekarang udah kuliah di sana ya, Fat ? Masih inget sama kaka yang botak dari jurusan Teknik Perpajakan kah ? hehe.  Well, dari situ aku mempunyai kegemaran baru, yaitu "ngajar". Bahkan, ketika keluar dari ruangan Rifat aku sempat berfikir "Wah, asyik juga ya ngajar, kalo gini mah, engga dibayar juga seneng - seneng aja". Sebuah awal yang menyenangkan, meskipun dengan pikiran yang sedikit kurang realistis, wkw.

My SPC Family

SPC seperti keluarga kedua bagiku. Ketika siangnya aku di sibukkan dengan kuliah dan tanggung jawab ketua kelas, malamnya aku memperoleh kehangatan keluarga dari Kak Ibnu, Kak Nina, Kak Bowo, Woro, Kak Arief, Sareang, Friska, dan pengajar lainya serta anak - anak yang jadi murid di SPC. Meskipun secara struktural adalah pekerja-pemberi kerja, tapi aku tidak merasa demikian. Kami adalah keluarga yang dipertemukan dalam satu kepentingan dan hobi yang sama. Pun teman - teman pengajar lain dan tentunya dari pihak SPC.

Saat waktunya telah tiba, salam perpisahaan itu pun terucap. Ketika itu adalah minggu - minggu Yudisium untuk mahasiswa PKNSTAN. Siang hari, 14 September 2017, sehari setelah Yudisium Pajak, ada chat dari Kak Nina masuk. Saat itu, aku sedang berada di Gd K bareng Pak Fahmi yang sedang persiapan tes CPNS Kemenkumham. Sebenarnya kawan, sudah beberapa kali Kak Nina chat tentang jadwal mengajarku, tetapi aku selalu tidak bisa karena minggu itu dan minggu sebelumnya, aku justru sibuk sekali di kampus baik persiapan yudisium, SKet Pajak, dan lainya. Aku pun baru bisa membuka PM dan membalasnya setelah sampai di kos pada sore harinya. Tidak seperti biasanya dimana aku membalas dengan kalimat "Okee Kaak!", "Siaap Kaaak!", "Bentar ya, siap - siap dulu", jawaban kali ini sedikit berbeda.

Ada beberapa pertimbangan kenapa aku memutuskan berhenti mengajar ketika itu. Salah satunya adalah, minggu depannya aku harus pulang-karena status mahasiswaku sudah hilang-. Sehingga, hampir dipastikan aku tidak lagi bisa mengajar untuk minggu - minggu berikutnya. Daripada membuat orang lain menunggu, lebih baik aku katakan dengan terus terang. Dari situ, berakhirlah perjalananku sebagai seorang pengajar, sehari setelah gelar mahasiswa diangkat.

Sampai sekarang aku masih bertanya - tanya, sebenarnya tiga tahun belakang ini aku kuliah sambil ngajar, atau ngajar sambil kuliah ? Haha. Apapun jawabanya, tidak masalah, karena aku bersyukur, kedua hal tersebut pernah ada dalam hidupku, yang memberiku banyak sekali pengalaman dan pelajaran selama tiga tahun ini. Pernah aku mendapat pujian dari Kepala Seksi tempatku PKL karena cara penyampaian materi saat presentasi akhir cukup bagus, "Cocok kamu mas jadi Kring Pajak, jadi tempat konsultasi dan menjelaskan materi ke Wajib pajak. Manteb banget!". Hal yang pertama aku ingat adalah aku bersyukur, Allah mempertemukanku dengan SPC yang menjadi fasilitasku belajar... dari nol. Meskipun, kalau sampai ibuku tahu aku tetap ngajar ketika aku sedang UTS dan UAS, aku bisa dicoret dari daftar warisan keluarga, wkw

Pernah pula suatu hari, ketika aku sudah lulus dari PKNSTAN, Ibuku bilang, "hebat memang ya, sudah sibuk kuliah dan organisasi, masih sempat - sempatnya ngajar!", dalam hati, Aku berkata lain. Bukan akunya yang hebat, tapi karena Allah-lah yang mempertemukanku dengan Keluarga SPC,  salah satu dari sekian banyak pihak yang membuatku terlihat hebat, cukup kuat untuk menjalani tiga tahun perjuanganku. Terima kasih Kak Ibnu, Terima kasih Kak Nina, dan Keluarga SPC lainya !

9 November 2017, Ditemani Rintik Hujan di Sore Hari.

Comments

Popular posts from this blog

Satu, yang Seperti Itu

Aku duduk di kursi, ditemani secangkir kopi yang gakbikinkembung di meja dan sebuah buku di depan kacamata. Ini buku kedua yang kubaca malam ini untuk menemani sepi. Bukan malam, pukul 2.00 sudah masuk waktu pagi. Namun, tetap saja, kabarmu tak kunjung tiba. Kelopak mata atas dan bawahku pun tak kunjung bertegur sapa. Aku tak berdaya. Seandainya aku di sana, aku takkan membiarkanmu sendiri.
“Mas, maaf ya. Aku ada masalah fatal di kantor dan harus segera ke luar kota malam ini. Aku izin ditemenin supir kantor ya” ucapmu tadi sore.

Aku tersentak. Perjalanan malam dengan medan bukit dan hutan sejauh 80km bukanlah hal yang menarik untuk dibayangkan. Terutama oleh aku di sini, 1346km dari kamu. Berkas sidang di mejaku pun tak kuhiraukan lagi. Tapi apa daya?

Amour Vincit Omnia, Cinta Itu Mengalahkan Segalanya. Tapi, sejak aplikasi trave*loka tak banyak membantu, aku bisa apa? Aku menyerah. Menyerah pada jarak yang terbentang di antara kita. Aku pun hanya bisa berdoa. Menitipkan dirimu kepada…

#MeInPKNSTAN 2 - (Seleksi Kompetensi Dasar) SKD Lulusan PKNSTAN 2017 !

Jika ada hal yang membuatku tertekan semenjak tingkat satu berkuliah di PKNSTAN, jawabanya bukan karena IP ataupun bayang - bayang penempatan di seluruh Indonesia, bukan. Meskipun yaa tiap ada UAS/ UTS/ Pengumuman IP hal tersebut terasa mendebarkan, tetapi Tes Kompetensi Dasar (TKD), atau kalau di zamanku namanya Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) lebih menegangkan lagi wkwk. Bagaimana tidak, kalau tidak lulus satu seleksi ini, perjuanganku kuliah selama tiga tahun di PKNSTAN untuk menjadi seorang aparatur sipil negara, terutama di DJP bakal kandas. Hal tersebut karena salah satu syarat seseorang diangkat menjadi seorang ASN adalah harus melewati tes ini.

Bila teringat tiga tahun lalu, ketika kepala masih botak bagaikan cilok, muka masih imut belum banyak pikiran UAS, UTS, DO, Jadwal Kosong, dll, duduk di Student Center untuk mengikuti dinamika, mendengarkan direktur memberikan sambutan sekaligus tanya jawab. "Yang memilih anda masuk STAN (ketika itu nama kampusku masih STAN, red) ad…

#MeInPKNSTAN 8 - Pengumuman Instansi : Keikhlasan atas Pilihan dan Takdir

Ibarat sebuah siklus, kejadian yang pernah aku rasakan empat tahun yang lalu seakan terulang kembali. Aku terlempar dari zona nyaman, lagi. Seperti orang yang putus cinta, dua hari setelah pengumuman aku masih tidak percaya, ternyata aku diterima di pilihan pertama survey penempatan instansi : Setjen Kemenkeu. Dan itulah masalahnya. Makan tidak enak, sering melamun, dan pikiran terbang entah kemana. Dasar manusia plin plan ! Mungkin Sang Pemegang Nasib sampai berkata demikian, bagaimana aku awalnya sangat berharap, namun setelah harapan itu terwujud, justru aku mengingkari hasilnya.



Dengan hati yang bingung, kucoba menemui beberapa kolega terdekat. Dimulai dengan Iyan dan Udi di malam pengumuman instansi. Kebetulan kamar mereka di sebelah kamar kosku yang baru. “Kenapa kamu dulu milih Setjen? Kalo di DJP kan lumayan gajinya, iya to ? haha” Kata Iyan sambil menggerakkan tangan seolah memamerkan uang di depan mukaku sambil bercanda.”Kalo aku sudah fokus dengan si dia sal, di DJP insya …