Skip to main content

Aku, Ibu Menteri, dan Sebuah Harapan yang Pernah Hilang

Hari itu adalah hari peresmian perubahan STAN menjadi PKNSTAN. Aku duduk sendiri di salah satu tribun Student Center (SC), menghitung - hitung souvenir yang aku dapat, dan meratapi betapa sepinya diriku saat itu. Oktober 2015, bulan dimana terjadi transisi dari tingkat satu ke tingkat dua. Saat itu teman - teman tingkat satu sudah mulai punya teman sendiri, sedangkan aku belum begitu dekat dengan teman tingkat dua, ditambah kesibukan mengajar yang semakin menjadi. "Faisal?", seseorang menyapaku. Aku menoleh, dan ternyata Diah sudah berdiri di sampingku. Diah adalah teman Dinamika-ku dulu, teman survey Kota Tua bareng Raka Toriq dan Rakanita Ilun. Meskipun kami berbeda jurusan, dalam beberapa kesempatan kami bertemu karena Diah sangat aktif jadi panitia berbagai acara kampus, sedangkan aku aktif jadi pencari souvenir di acara - acara kampus, hehe. Jadilah aku punya teman ngobrol sambil menikmati acara peresmian tersebut.

"Menteri Keuangan beserta pejabat memasuki ruangan. Hadirin dimohon berdiri" terdengar suara MC menyambut rombongan Menteri Keuangan, yang ketika itu dijabat oleh Bapak Bambang Brojonegoro. Inilah saat dimana aku pertama kali melihat menteri keuangan secara langsung. Acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada perancang logo PKN STAN yang baru. Seorang mahasiswa. Satu tingkat di atasku. Melangkah menaiki panggung. Disambut dengan salaman dan senyuman oleh Bapak Menteri serta tepuk tangan hadirin. Kemudian ditutup dengan pemberian hadiah dan berfoto bersama dengan beliau. "Ah.. begitu senangnya mas itu. Ikut sayembara dan bisa foto bareng menteri ? Seandainya aku ikut ketika itu... eh tapi kan aku engga bisa desain ? wkw" pikiran - pikiran itu memenuhi kepalaku. Harapan itu pernah ada, berharap bisa menjadi mas - mas tadi suatu saat, tapi kemudian logika manusia bekerja, hingga timbul pertanyaan, "dengan cara apa aku bisa seperti dirinya ?". Dari semula sebuah harapan, kemudian menjadi angan - angan, hingga akhirnya hilang ditelan keraguan.

***
"Faisal.. Kaka nunggu di Gate 4 SICC ya!", wassap dari Kak Linta masuk ke hapeku. Kami memang janjian untuk latihan persiapan membaca Pakta Integritas. "Okee Kak, bentar ya.. sudah mau sampai, masih di Tol" balasku. Padahal, ketika itu aku masih di parkiran gedung Dhanapala, lagi koordinasi sama Mas Evan, karena ada satu orang dari dari Bus 4 (bus yang aku menjadi koordinatornya) belum hadir. (Maafkan adikmu ya Kaak, daripada kaka panik kaan, terus jomblo di atas panggung kalo aku datang terlambat wkw). Tepat pukul 06.15 lebih, enam bus CPNS Setjen akhirnya bergerak menuju SICC, Bogor. Aku terus berulang kali menenangkan hati, "kalau udah rejekinya, insya Allah gak akan kemana, Sal. Laa haula wala kuwata ila billah.. ".

Sampai di sana, setelah menyerahkan mandat koordinator Bus 4 ke Alvi, aku bergegas menuju ke ruang utama. "Zhar, temen2 setjen aman ? Minta bantuanya buat dikoordinasi yaa.. aku langsung briefing buat acara kemarin" aku menelfon Nizhar karena teringat teman - teman setjen saat berkeliling mencari toilet. "Waduh, pada mencar Mas! tapi ini lagi diusahakan booking tempat ama Mas Bintang", balas Nizhar , "Owalaah, yawdah seadanya saja, yang penting jangan lupa yel - yel setjen ya !", kemudian aku menutup telfon karena sudah ditunggu Ka Linta.  "lama banget sal ke toiletnya? Boker ya ? wkwk" ku baca wassap dari kak Linta. "Ini mau saya jawab langsung apa via chat Kak ? haha", kataku sambil berjalan mendekati Ka Linta.

Setelah briefing dan latihan dengan Kak Linta, acara pun di mulai. Satu per satu pejabat Eselon I mulai lewat dan berhenti di depanku (karena aku di bangku paling depan, dan paling pojok kanan). Hingga akhirnya Ibu Meteri memasuki ruangan dan tepuk tangan riuh terdengar di dalam SICC. Itu adalah jarak terdekat aku dengan bu menteri. Hanya dua langkah dari beliau. Setelah sebelumnya hanya bisa menyaksikan dari tribun SC atau Gedung G PKNSTAN ketika ada seminar dari beliau saat kuliah dulu.


"Jangan Berhenti Sampai di Sini ya ! Terus Belajar !"
"Dari hasil seleksi, kami memperoleh dua nama dengan nilai SKD tertinggi", ujar Pak Setjen memberikan laporan. "Nilai SKD tertinggi dari lulusan PKN STAN, Faisal Labib Zulfiqar, dengan nilai 447, jurusan D3 Pajak, penempatan.. Waini! Sekretariat Jenderal. Wah, ini nanti bisa membantu perumusan policy di bidang perpajakan di Kementerian Keuangan ya", Pak Setjen menambahkan. Selanjutnya, aku dan Kak Linta (Nilai SKD tertinggi dari Jalur seleksi Umum) dipanggil untuk naik ke atas panggung, menerima penyematan nametag pegawai secara simbolik dari Ibu Menteri (Ibu Sri Mulyani). Berjalan menaiki anak tangga ke atas panggung, disambut senyuman oleh Ibu Menteri, dan tepuk tangan hadirin, sebuah mimpiku dulu, yang bahkan aku terlalu takut untuk sekedar berharap. "Jangan sampai di sini saja, tetap terus belajar!", ujar Ibu Menteri sambil menyalamiku. "Siap Bu!", ujarku.  Akhirnya kami berfoto bersama, di dampingi oleh Pak Setjen.

Pak Dirjen Pajak, Ibu Menteri, Pak Sesjen, Aku, Ka Linta, Pak Kepala BPPK
Setelah itu kami di arahkan menuju meja untuk penandatangan Pakta Integritas. Kawan, sebelumnya aku pernah melihat penandatangan dan pelantikan Dirjen Pajak (Pak Robert Pakpahan) dan Pak Dirjen DJPPR di depan Ibu Menteri. "Ya Allah, kapan ya aku bisa seperti itu ?", ujarku ketika itu. Ternyata Allah Maha Baik, dan Sebaik - baiknya pembuat rencana. Belum sebulan aku melihat itu di twitter, aku memperoleh kesempatan tersebut, meskipun bukan dilantik jadi Dirjen sih, hehe. "Hee.. main tanda tangan aja, emang kalian tau apa itu isinya ?", ujar Bu Menteri. Aku yang mengangkat pena saja enggak kuat, hanya bisa menggeleng diikuti senyuman dari Ka Linta ke Ibu Menteri. Selesai tanda tangan, kami membacakan Pakta Integritas tersebut diikuti oleh 7000-an CPNS Kemenkeu 2017.


Pak Sesjen, Ka Linta, Si Ganteng, Ibu Menteri
***

"WEEEW GILAA !! Ternyata kamu SKD tertinggi ya !! Selamat ya !"  ada wassap masuk dari nomor tidak dikenal ketika aku hendak naik Bus. Setelah aku liat, ternyata Diah ! Masya Allah. "Iyaa, terima kasih yaa :)", jawabku. "Kalau sudah jadi Eselon II, kabar - kabar ya !" balasnya lagi. "Siaap, nanti kalau ada rapat antar eselon II, aku kabarin , wkwk" ujarku. Aku baru sadar, Diah dan aku berbeda instansi eselon I, jadi gimana caranya kita bisa rapat bersama ? haha. Teman, Sahabat.. Di PKNSTAN aku belajar, berada di antara teman - teman yang berjuang bersama dan merayakan keberhasilan bersama, ternyata lebih mengasyikan daripada engkau berjuang sendiri dan meraih kesuksesan hanya untuk dirimu sendiri. 

Kawan, entahlah, aku bingung harus merasa apa. Di ceritaku sebelumnya, aku pernah berharap “seandainya” ini semua adalah mimpi dan berharap suatu saat aku akan terbangun. Masih mau kah sekarang aku berharap demikian? Ancient One dalam film Dr Strange mengajarkanku, bahwa meski engkau telah hidup 2000 tahun dan telah mencoba berbagai macam cara untuk mengubah takdir, dalam hal ini kematian Ancient One, takdir tersebut akan tetap menemuimu, bagaimanapun cara yang engkau tempuh. Ya memang sih hanya sebuah film, tapi bagaimana dengan takdir ku yang telah ditulis oleh Allah Subhanahu Wata’ala 50.000 tahun sebelum dunia ini diciptakan ? Apakah aku mau mengingkari ketentuaNya dengan berkata “seandainya” dan berharap bisa kembali ke masa lalu ? 


Abaikan Manusia Paling Kanan wkwk
Dari situ aku merasa malu, malu pada diriku yang tidak pernah merasa bersyukur. Kalau kata Tere Liye, aku akan berusaha belajar memeluk masalah yang ku hadapi. Aku terlalu memikirkan missing tile yang sebenarnya hanya bagian kecil dari banyak hal yang belum aku syukuri. Lagi pula, kata khatib Sholat Jumat kemarin, orang sukses itu salah satunya adalah yang sering mengingat kematian. Menurut jam akhirat, hidupku ga lebih dari 1.5 jam, lantas kenapa aku tidak belajar berkontribusi dan menyiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih abadi ? Ya Allah, hambamu ikhlas, ikhlas akan jalan yang harus hamba lalui. Bimbinglah hambamu, tunjukan jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhoi. Bismillah.. kalau memang rezekinya, insya Allah gak akan kemana, laa haula wala kuwata ila billah.. Harapan itu kembali tersimpan, semangat itu kembali kembali menyala, dan mimpi itu kembali bersemi. Insya Allah ini yang terbaik, Insya Allah.


See You on Top Kak !


*Ditulis Selepas Jam Kerja Pinjem Komputer Pak Res, 4 Januari 2018
Lantai 6 - Bagian APKD, SetPP Jakarta

Comments

Popular posts from this blog

Satu, yang Seperti Itu

Aku duduk di kursi, ditemani secangkir kopi yang gakbikinkembung di meja dan sebuah buku di depan kacamata. Ini buku kedua yang kubaca malam ini untuk menemani sepi. Bukan malam, pukul 2.00 sudah masuk waktu pagi. Namun, tetap saja, kabarmu tak kunjung tiba. Kelopak mata atas dan bawahku pun tak kunjung bertegur sapa. Aku tak berdaya. Seandainya aku di sana, aku takkan membiarkanmu sendiri.
“Mas, maaf ya. Aku ada masalah fatal di kantor dan harus segera ke luar kota malam ini. Aku izin ditemenin supir kantor ya” ucapmu tadi sore.

Aku tersentak. Perjalanan malam dengan medan bukit dan hutan sejauh 80km bukanlah hal yang menarik untuk dibayangkan. Terutama oleh aku di sini, 1346km dari kamu. Berkas sidang di mejaku pun tak kuhiraukan lagi. Tapi apa daya?

Amour Vincit Omnia, Cinta Itu Mengalahkan Segalanya. Tapi, sejak aplikasi trave*loka tak banyak membantu, aku bisa apa? Aku menyerah. Menyerah pada jarak yang terbentang di antara kita. Aku pun hanya bisa berdoa. Menitipkan dirimu kepada…

#MeInPKNSTAN 2 - (Seleksi Kompetensi Dasar) SKD Lulusan PKNSTAN 2017 !

Jika ada hal yang membuatku tertekan semenjak tingkat satu berkuliah di PKNSTAN, jawabanya bukan karena IP ataupun bayang - bayang penempatan di seluruh Indonesia, bukan. Meskipun yaa tiap ada UAS/ UTS/ Pengumuman IP hal tersebut terasa mendebarkan, tetapi Tes Kompetensi Dasar (TKD), atau kalau di zamanku namanya Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) lebih menegangkan lagi wkwk. Bagaimana tidak, kalau tidak lulus satu seleksi ini, perjuanganku kuliah selama tiga tahun di PKNSTAN untuk menjadi seorang aparatur sipil negara, terutama di DJP bakal kandas. Hal tersebut karena salah satu syarat seseorang diangkat menjadi seorang ASN adalah harus melewati tes ini.

Bila teringat tiga tahun lalu, ketika kepala masih botak bagaikan cilok, muka masih imut belum banyak pikiran UAS, UTS, DO, Jadwal Kosong, dll, duduk di Student Center untuk mengikuti dinamika, mendengarkan direktur memberikan sambutan sekaligus tanya jawab. "Yang memilih anda masuk STAN (ketika itu nama kampusku masih STAN, red) ad…

#MeInPKNSTAN 8 - Pengumuman Instansi : Keikhlasan atas Pilihan dan Takdir

Ibarat sebuah siklus, kejadian yang pernah aku rasakan empat tahun yang lalu seakan terulang kembali. Aku terlempar dari zona nyaman, lagi. Seperti orang yang putus cinta, dua hari setelah pengumuman aku masih tidak percaya, ternyata aku diterima di pilihan pertama survey penempatan instansi : Setjen Kemenkeu. Dan itulah masalahnya. Makan tidak enak, sering melamun, dan pikiran terbang entah kemana. Dasar manusia plin plan ! Mungkin Sang Pemegang Nasib sampai berkata demikian, bagaimana aku awalnya sangat berharap, namun setelah harapan itu terwujud, justru aku mengingkari hasilnya.



Dengan hati yang bingung, kucoba menemui beberapa kolega terdekat. Dimulai dengan Iyan dan Udi di malam pengumuman instansi. Kebetulan kamar mereka di sebelah kamar kosku yang baru. “Kenapa kamu dulu milih Setjen? Kalo di DJP kan lumayan gajinya, iya to ? haha” Kata Iyan sambil menggerakkan tangan seolah memamerkan uang di depan mukaku sambil bercanda.”Kalo aku sudah fokus dengan si dia sal, di DJP insya …