Skip to main content

Diskursus Cinta

Lalu lintas tampak lancar, hanya terlihat beberapa mobil beriringan karena jalannya terhambat oleh mobil truk atau kontainer di depannya. Jalan Tol Cikampek sudah habis dan Gerbang Tol Cipali baru saja kami lewati. Avanza Putih yang ku kendarai melaju rata-rata di atas 100 km/jam, mengingat perjalanan 250 km kami belum ada setengahnya. Ya, perjalanan kami. Seharusnya kami berempat, tapi karena dua sahabatku baru ingat ada acara keluarga, jadilah kami berdua berangkat sendiri.

Ini adalah pengalaman serba pertama kali bagiku. Pertama kali menggunakan mobil matic, pertama kali masuk tol, dan pertama kali masuk tol terpanjang di Indonesia. Ditambah satu orang sahabat disebelahku yang harus aku jaga keselamatannya.

“Kamu percaya aku yang bawa mobil?”, tanyaku sedikit ragu beberapa hari sebelumnya.

“Iya, siapa lagi kalo bukan kamu? Dulu juga pas kuliah aku percaya kamu bawa motor, meskipun akhirnya kita ditabrak orang haha”, jawabnya.

Baiklah. Terkadang seseorang tidak perlu diberi tahu langkah-langkah untuk melakukan sesuatu. Yang dia butuhkan hanya kepercayaan bahwa dirinya mampu mengerjakan hal tersebut.

“Bang, menurutmu apa itu cinta?”, tanyanya memulai percakapan.

“Maksudmu?”, tanyaku bingung.

“Iya kaya temen kita yang mau nikah nanti, apa sih cinta itu? Emang bisa cinta ya kalau engga sama-sama kenal?”, jawabnya memperjelas pertanyaan.

Lampu sein kunyalakan. kupindahkan mobil ke lanjur paling kiri agar dapat berjalan lebih lambat.

“Kalo menurutku, sama seperti Fahri, cinta sejati itu cinta setelah akad nikah. Sebelum itu, belum bisa dikatakan cinta”, ujarku.

“Tapi bang, emang bisa gitu nikah tapi ga cinta?”

“Bukan engga cinta. Tapi belum cinta. Cinta bisa ditumbuhkan kok, asal sudah halal”, jawabku sedikit sok tahu.

“Buktinya?”, tanyanya menginterogasi.

“Aku pernah ikut seminar, wanitanya baru cinta 3 hari menjelang mereka menikah. Tapi memang prosesnya taaruf yang bener, bukan pacaran islami”, jawabku menjelaskan.

Sahabatku terdiam. Gerimis mulai mengguyur perjalanan kami, aku menyalakan wiper dan memperlambat laju mobil. “AWAS TABRAK BELAKANG!”. Kira-kira begitu plang-plang peringatan di sepanjang jalan.

“Kalau taaruf gitu, kan totally stranger ya, nanti kalau dapat yang salah gimana?”, tanyanya lagi.

“Ya kan ada prosesnya atuh dek. Proses pengenalan, ada ikhtiar untuk mencari yang terbaik. Kita juga punya Allah, bisa minta petunjuknya lewat istikharah kan? Lagian kan yang baik akan dipasangkan dengan yang baik juga, begitu juga sebaliknya, rite?”

“Tapi masih belum bisa bayangin aja, haha”, balasnya.

“Coba deh baca novel KCB, disitu digambarkan dengan elegan. Itu manusia yang buat. Kalau Allah yang mengatur, pasti jauh lebih indah dari itu. Percaya deh, jodoh sudah ada yang ngatur. Tinggal kita memperbaiki diri dan hanya berharap pada Dia” jawabku lagi mengikuti kata-kata ustadz di kajian yang pernah aku putar di youtube sebelumnya.

Hujan mulai reda seiring redanya pula pertanyaan dari sahabatku. Sebenarnya, dalam hati, aku pun bingung, apa sih cinta itu? Atau memang hanya bisa kita sadari seperti kata Fahri, setelah kita akad?

Aku pernah merasakan cinta yang salah, cinta sebelum akad, berharap pada manusia, bercita-cita, merencanakan masa depan, dan kecewa terhadap pengharapan tersebut. Seperti kata Imam Ali, “Aku pernah merasakan semua kepahitan hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia”. Meskipun berarti luas, tapi berharap ke dia sebelum kepada Dia termasuk ke dalam definisi tersebut. Makanya benar bila Ust. M. Nudzul Dzikri mengatakan, “Kalau antum jatuh cinta, jangan sok tau. Allah lebih tau dari antum, makanya Allah menentukan protokol yang benar dalam mencinta. Apapun hal dari orang yang kita cintai, pasti terlihat baik, ada saja alasan untuk menganulir hal buruk dari orang yang kita sedang jatuh cinta padanya”. Ah, memang indah, dalam jatuh cinta saja Allah mengaturnya. Tapi tinggal bagaimana kita patuh atau tidak dengan aturan tersebut.

“Kurang berapa kilo lagi dek?” tanyaku.

“Masih jauuh, 150an lagi bang, wkw. By the way, kamu dah makan?” tanyanya.

“Udah tadi sebelum berangkat”, jawabku polos.

“IH BANG! KAMU ITU LAIN KALI KALAU MAU PERGI SAMA ORANG JANGAN MAKAN DULUUUU.. MAKAN SAMA ORANG YANG KAMU AJAK PERGI…!! JANGAN DI DULUIN… UDAH AKU MASAKIN NIH, SIAPA YANG MAU MAKAN COBA? SUSAH TAU BIKINNYA dst.”, protes sahabatku dengan intonasi seperti biasanya.

“Ampuun dekkk”

Aku nyalakan lagi sein dan aku belokan mobil memasuki rest area.

Ruang Farmasi RS, Jakarta Pusat.
6 Ramadhan 1439H

Comments

Popular posts from this blog

Satu, yang Seperti Itu

Aku duduk di kursi, ditemani secangkir kopi yang gakbikinkembung di meja dan sebuah buku di depan kacamata. Ini buku kedua yang kubaca malam ini untuk menemani sepi. Bukan malam, pukul 2.00 sudah masuk waktu pagi. Namun, tetap saja, kabarmu tak kunjung tiba. Kelopak mata atas dan bawahku pun tak kunjung bertegur sapa. Aku tak berdaya. Seandainya aku di sana, aku takkan membiarkanmu sendiri.
“Mas, maaf ya. Aku ada masalah fatal di kantor dan harus segera ke luar kota malam ini. Aku izin ditemenin supir kantor ya” ucapmu tadi sore.

Aku tersentak. Perjalanan malam dengan medan bukit dan hutan sejauh 80km bukanlah hal yang menarik untuk dibayangkan. Terutama oleh aku di sini, 1346km dari kamu. Berkas sidang di mejaku pun tak kuhiraukan lagi. Tapi apa daya?

Amour Vincit Omnia, Cinta Itu Mengalahkan Segalanya. Tapi, sejak aplikasi trave*loka tak banyak membantu, aku bisa apa? Aku menyerah. Menyerah pada jarak yang terbentang di antara kita. Aku pun hanya bisa berdoa. Menitipkan dirimu kepada…

#MeInPKNSTAN 2 - (Seleksi Kompetensi Dasar) SKD Lulusan PKNSTAN 2017 !

Jika ada hal yang membuatku tertekan semenjak tingkat satu berkuliah di PKNSTAN, jawabanya bukan karena IP ataupun bayang - bayang penempatan di seluruh Indonesia, bukan. Meskipun yaa tiap ada UAS/ UTS/ Pengumuman IP hal tersebut terasa mendebarkan, tetapi Tes Kompetensi Dasar (TKD), atau kalau di zamanku namanya Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) lebih menegangkan lagi wkwk. Bagaimana tidak, kalau tidak lulus satu seleksi ini, perjuanganku kuliah selama tiga tahun di PKNSTAN untuk menjadi seorang aparatur sipil negara, terutama di DJP bakal kandas. Hal tersebut karena salah satu syarat seseorang diangkat menjadi seorang ASN adalah harus melewati tes ini.

Bila teringat tiga tahun lalu, ketika kepala masih botak bagaikan cilok, muka masih imut belum banyak pikiran UAS, UTS, DO, Jadwal Kosong, dll, duduk di Student Center untuk mengikuti dinamika, mendengarkan direktur memberikan sambutan sekaligus tanya jawab. "Yang memilih anda masuk STAN (ketika itu nama kampusku masih STAN, red) ad…

#MeInPKNSTAN 8 - Pengumuman Instansi : Keikhlasan atas Pilihan dan Takdir

Ibarat sebuah siklus, kejadian yang pernah aku rasakan empat tahun yang lalu seakan terulang kembali. Aku terlempar dari zona nyaman, lagi. Seperti orang yang putus cinta, dua hari setelah pengumuman aku masih tidak percaya, ternyata aku diterima di pilihan pertama survey penempatan instansi : Setjen Kemenkeu. Dan itulah masalahnya. Makan tidak enak, sering melamun, dan pikiran terbang entah kemana. Dasar manusia plin plan ! Mungkin Sang Pemegang Nasib sampai berkata demikian, bagaimana aku awalnya sangat berharap, namun setelah harapan itu terwujud, justru aku mengingkari hasilnya.



Dengan hati yang bingung, kucoba menemui beberapa kolega terdekat. Dimulai dengan Iyan dan Udi di malam pengumuman instansi. Kebetulan kamar mereka di sebelah kamar kosku yang baru. “Kenapa kamu dulu milih Setjen? Kalo di DJP kan lumayan gajinya, iya to ? haha” Kata Iyan sambil menggerakkan tangan seolah memamerkan uang di depan mukaku sambil bercanda.”Kalo aku sudah fokus dengan si dia sal, di DJP insya …